Monthly Archives: Agustus 2007

KH.ISHOMUDDIN HADZIK (GUS ISHOM)

Muhammad Ishomuddin Hadzik atau yang biasa di panggil Gus Ishom merupakan cucu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari pasangan Chodidjah Hasyim – Muhammad Hadzik Mahbub. Lahir di Kediri, 18 Juli 1965, sejak kecil telah menunjukkan bakat yang mendalam terhadap dunia keilmuan khususnya tentang kitab kuning. Sejak kelahirannya, Ishom kecil telah mendapat sentuhan barakah dari almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly dan almarhum almaghfurlah KH. Abdul Majid putra KH. Ma’ruf Kedung Lo.
Ketika proses kelahiran yang mengalami sedikit kesulitan, sang ayah M. Hadzik Mahbub sowan kepada almarhum almaghfurlah KH. Abdul Majid agar berkenan memberikan doa agar proses kelahiran putranya berlangsung lancar. Akhirnya almarhum almaghfurlah KH. Abdul Majid memberikan segelas air putih kepada M. Hadzik Mahbub agar diminumkan kepada istrinya. Setelah itu air segera diminumkan oleh M. Hadzik Mahbub kepada istrinya. Tidak lama kemudian, lahirlah bayi laki-laki dirumah sakit Kediri. Segera almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly dikabari tentang kelahiran tersebut. Ketika almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly datang ke rumah sakit dan memberi nama bayi laki-laki tesebut dengan nama Ishomuddin.
Setelah itu, kehidupan Ishom kecil dibawa ke Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Sejak kecil, Ishom telah diperkenalkan kepada kehidupan pesantren yang sarat dengan pendidikan agama. Pada usia yang tergolong anak-anak, Ishom telah menunjukkan ketertarikan kepada ilmu-ilmu agama. Pada usia 7 tahun, setiap bulan ramadhan, Ishom kecil selalu melakukan tarawih dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Tujuannya adalah memilh diantara imam-imam yang terbaik bacaan Al-Qur annya agar dia bisa belajar membaca Al-Qur an kepada imam tersebut. Setelah menemukan imam yang bacaannya cocok dengannya, Ishom kecil segera matur kepada sang ibu bahwa dia ingin mengaji Al-Qur an kepada imam itu.
Diluar bulan ramadhan, Ishom kecil juga shalat maghrib berjamaah dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Pada saat itu, shalat jamaah sering dipimpin oleh almarhum almaghfurlah KH. Muhammad Idris Kamali, menantu Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Setiap selesai berdoa’ tak lupa kyai Idris demikian panggilan sehari-hari, selalu meniup kening Ishom kecil sambil diiringi dengan doa barakah.

KH.ISHOMUDDIN HADZIK (GUS ISHOM)


Pada waktu bersekolah di SDN Cukir I, sosok Ishom kecil telah menonjol diantara teman-temannya. Dari segi pelajaran, nilai yang didapat selalu diatas teman-temannya. Pada saat memasuki bangku sekolah lanjutan, Ishom yang telah beranjak remaja, memilih pagi hari untuk bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng dan siang harinya di SMP A. Wahid Hasyim. Sungguh semangat belajar yang sangat kuat untuk usia anak-anak.
Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ishom memutuskan untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Dibawah bimbingan langsung almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly, gus Ishom yang telah beranjak remaja semakin mendapat bekal ilmu agama dan kitab kuning semaikin banyak. Ketertarikannya kepada kitab kuning ditambah riyadhah yang kuat, membuatnya semakin lancar dalam menuntut ilmu. Berbagai kitab yang tergolong kitab besar dan tidak semua santri mampu membacanya dan memahaminya, dengan mudah di “lahap” oleh gus Ishom. Otak yang cerdas, pikiran yang cemerlang menjadikannya mudah dalam memahami tentang suatu hal. 11 tahun adalah waktu yang cukup bagi gus Ishom menimba ilmu di pondok pesantrten Lirboyo Kediri, termasuk ketika menjadi santri kilat ketika ramadhan diberbagai pesantren lainnya.
Pada tahun 1991, gus Ishom pulang kembali ke Tebuireng untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari selama nyantri di Pondok Pesantren Liboyo Kediri serta pesantren lainnya. Sikap rendah hati, alim, tidak neko-neko membuat gus Ishom banyak mendapat simpati masyarakat sekitar walaupun baru pulang dari pondok pesantren. Kealimannya dalam hal kitab kuning, membuat gus Ishom bersentuhan langsung dengan karya sang kakek Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Beberapa kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari diterbitkan dan dibacanya pada bulan ramadhan di masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diikuti oleh ribuan peserta sehingga kitab-kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dikenal oleh masyarakat luas. Selain telah menerbitkan sebagian kitab karya kakeknya, gus Ishom juga menulis beberapa kitab yaitu : 1. Audhohul Bayan Fi Ma Yata’allq Bi Wadhoifir Ramadhan. 2. Miftahul Falah Fi Ahaditsin Nikah. 3. Irsyadul Mukminin.
Tidak hanya dalam urusan ilmu agama, gus Ishom cukup memahami tentang masalah sosial, budaya serta politik. Cukup sering tulisannya menghiasi berbagai halaman media massa semisal harian Surya, Jawa Pos, Republika dan lain-lain. Pengalaman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang, membuat pengalaman politiknya semakin tajam.
Selain menulis kitab dan beberapa artikel di media massa, gus Ishom juga merupakan seorang muballigh yang handal. Lisan yang fasih, bahasa yang lugas serta ilmu yang tinggi, membuat setiap ceramah yang disampaikan olehnya selalu menarik untuk disimak. Tidak banyak orang bisa menulis kitab, artikel, cerpen dan berpidato. Gus Ishom merupakan sosok serba bisa yang diharapkan menjadi kader NU yang mumpuni.
Pada tanggal 23 Januari 2000, setelah menemukan calon istri bernama Nia Dzaniati Anwar yang berasal dari Pacitan, dikomplek pemakaman keluarga Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, gus Ishom melangsungkan pernikahan dengan akad nikah dilakukan oleh gus Dur yang saat itu menjabat presiden. dengan disaksikan oleh para kyai

.Penulis teringat waktu kuliah dulu, beliau sempat menjadi dosen di INSTITUT KEISLAMAN HASYIM ASYARI (IKAHA) beliau memberikan desertasi kuliah yang luar biasa tentang KONTEKSTUALISASI KITAB KUNING , bagaimana mencoba mengaktualisasikan khazanah-khazanah kitab-kitab karya ulama terdahulu yang begitu luar biasa banyaknya. Dan gagasan ini adalah adalah sesuatu yang berharga bagi penulis untuk dapat menginterprestasikan kajian-kajian kitab salaf agar dapat di implementasikan pada masa kini.Dan hingga saat ini gagasan itu hanya sebuah wacana dikalangan ulama NU dan belum ditemukan solusi terhadap gagasan tersebut.

Pada akhir tahun 2002, ketika bulan ramadhan gus Ishom mengalami sakit pada bagian betis yang diduga oleh dokter sebagai gejala asam urat akut. Berbagai pengobatan dilakukan, akan tetapi tidak membawa hasil. Akhirnya ketika sakit yang semakin parah, gus Ishom dirujuk ke Surabaya dan disanalah diketahui bahwa gus Ishom menderita kanker yang tergolong langka dan telah mencapai stadium III. Pengobatan melalui kemoterapi dan berbagai upaya alternatif telah dilakukan. Akan tetapi Sang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamiin memiliki kehendak lain. Pada tanggal 26 Juli 2003 pukul 6.30 WIB gus Ishom dipanggil menghadap Allah SWT. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak putra – putri yang bernama Muhammad Hasyim Anta Maulana dan La Tahzan Innallaha Ma’ana. Gus Dur yang mengakadkan nikahnya, Gus Dur pula yang mensholati pertama kali jenazahnya. Akad nikah sebagai pembuka kehidupan baru dilaksanakan di komplek makam keluarga Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Dikomplek itu pula gus Ishom menutup kehidupannya. Gerimis yang turun dimusim kemarau ketika pembacaan talqin seolah menyampaikan duka dan siraman rahmat dari Allah SWT. Selamat jalan kakakku, sahabatku, guruku. Semoga engkau menemukan kedamaian di sisi Allah nan Maha Agung.

KHUTBAH TERAKHIR NABI MUHAMMAD SAW

Khotbah Nabi Muhammad SAW untuk yang terakhir kalinya disampaikan pada 9 Zulhijjah Tahun10 Hijriah di lembah Uranah, Gunung Arafah. Hingga saat ini pada tanggal 9 Zulhijah menandai telah dimulainya ibadah haji, yakni menjalankan rangkaian ritus paling penting dari ibadah haji sebagai peristiwa ziarah terbesar dalam sejarah agama-agama.
Mereka mengenakan pakaian ihram, bergerak dari Mekkah untuk wukuf (berdiam) di Padang Arafah, timur Mekkah, hingga terbit matahari pada 9 Zulhijah. Dari Arafah, mereka kembali ke Mekkah dengan menyinggahi Masy’ar/Muzdalifah (sepanjang malam), bergerak ke dan tinggal di Mina mulai fajar pada 10 Zulhijah (hari raya Kurban), 11, dan 12 Zulhijah.

Nabi Muhammad SAW pernah menegaskan, al-hajju ’Arafah, maksudnya haji adalah berkumpul di Padang Arafah. Semua ras manusia ada di sini, tanpa perbedaan. Ini mencerminkan pandangan Islam yang kuat mengenai egalitarianisme bahwa di mata Tuhan, manusia sama dan sederajat, yang membedakan hanya takwa dan amal saleh, yaitu kerja kemanusiaan yang dilakukan sepanjang hidupnya.

Kenangan yang selalu diingat saat di Arafah adalah Khotbah Terakhir (khutbat-u ‘l-wada’) Nabi, yang menegaskan mengenai prinsip hak asasi manusia (HAM). Saat itu, Nabi sudah mulai sakit-sakitan, yang menyebabkan beliau kemudian wafat. Maka, khotbah Nabi disebut “Khotbah Terakhir”. Nabi mengingatkan, “Wahai manusia, ingatlah Allah! Ingatlah Allah berkenaan dengan agamamu dan amanat-amanatmu. Ingatlah Allah berkenaan dengan orang yang kamu kuasai dengan tanganmu.”

Berikut petikan khotbah terakhir Rasulullah SAW:

Wahai manusia, dengarkanlah baik-baik apa yang hendak Ku katakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini. Oleh karena itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia, sebagaimana engkau menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanatkan kepadamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah engkau sakiti siapapun agar orang lain tidak menyakitimu. Ingatlah bahwa sesungguhnya engkau akan menemui Tuhan-mu dan Dia pasti membuat perhitungan atas segala amalan kalian. Allah telah mengharamkan riba, oleh sebab itu segala urusan yang melibatkan riba tinggalkan mulai sekarang.

Waspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agamamu. Dia telah putus asa untuk menyesatkan kalian dalam dosa besar, maka berjaga-jagalah supaya kalian tidak mengikutinya dalam dosa kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kalian menpunyai hak atas isteri kalian, mereka juga mempunyai hak di atas kalian. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka keatas kalian maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kalian dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka karena sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kalian yang setia. Dan hak kalian atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kalian tidak sukai ke dalam rumah kalian dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia, dengarkanlah dengan sungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah sholat lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikanlah zakat dari harta kekayaan kalian, kerjakanlah ‘ibadah Haji’ sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara atas Muslim yang lainnya. Kalian semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.

Ingatlah, bahwa kalian akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggung- jawabkan di atas segala apa yang telah kalian kerjakan. Oleh karena itu waspadalah agar jangan sekali-kali kalian keluar dari landasan kebenaran setelah ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang setelahku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh karena itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kalian. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang sekiranya kalian berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah ya ALLAH, bahwa telah aku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hamba Mu. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

WASPADAI BARAT YANG MENODAI ISLAM

ADA SERANGAN BERENCANA YANG MENODAI AGAMA ISLAM

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mensinyalir, saat ini ada serangan berencana yang sistemik untuk menodai agama Islam. Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religions and Peace (WCRP) mengatakan hal itu menyusul tindakan sejumlah oknum di Denmark yang menggelar lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW.

“Fonemana ini menunjukan bahwa saat ini ada serangan berencana yang dilakukan secara sitematik untuk menodai kesucian agama Islam,” kata Hasyim kepada NU Online di kediamannya di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, Ahad (8/10). Ditegaskannya, ada serangan yang berencana, karena belakangan berulang kali terjadi tindakan yang menyinggung perasaan umat Islam.

Hasyim menambahkan, kejadian itu telah membantah anggapan masyarakat, bahwa umat Islam adalah sumber ektrimisme, karena yang dilakukan umat Islam selama ini hanya sebatas reaksi dari kekecewaan terhadap kejadian yang telah terjadi berulang-ulang.

“Sehingga tidak bisa disalahkan, bahwa serangan terhadap Islam terasa sebuah konspirasi. Pembangunan opini dunia, yang mengesankan Islam sebagai potensi konflik ternyata tidak secara faktual. Reaksi-reaksi umat Islam lebih banyak bersifat reaktif dari pada ofensif,” ungkap Hasyim yang juga mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur ini.

Lebih lanjut, Hasyim meminta kepada umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk meningkatkan ikatan persaudaraan, agar tidak mudah dipecah oleh pihak-pihak yang ingin merusak Islam. ”Dengan demikian, maka Umat Islam seharusnya meningkatkan ukhuwah Islamiyah agar tidak tercabik-cabik oleh kekuatan Islamophobia (ketakutan terhadap Islam),” tuturnya.

Sebagai Presiden WCRP, Hasyim merasa berkewajiban menegur pihak-pihak yang menjadi sumber konflik agama tersebut. Sebab, jika hal itu dibiarkan akan semakin meningkatkan konflik agama yang sulit dibendung. ”WCRP berhak dan berkewajiban menegur gerakan-gerakan yang menjadi sumber konflik itu, dari agama apapun,” katanya.

Sebagaimana diketahui, stasiun televisi negara Denmark menyiarkan rekaman video amatir yang memperlihatkan beberapa anggota muda Partai Anti-imigran Rakyat Denmark (DPP) terlibat dalam lomba menggambar kartun yang menghina Nabi Muhammad.

Dalam rekaman itu terlihat beberapa anggota muda yang berusia 20-an dan 30-an tahun sedang minum-minum, bernyanyi dan menggambar kartun Nabi Muhammad.

Wajah-wajah anggota partai itu sengaja dikaburkan. Namun gambar yang mereka buat terlihat jelas. Salah satu kartun menggambarkan Muhammad seperti unta yang sedang buang air kecil dan minum bir. Kartun lainnya memperlihatkan Nabi Muhammad dikelilingi oleh botol-botol bir. (NU ON LINE 30 AUG 2007)