Monthly Archives: Agustus 2007

KH.ISHOMUDDIN HADZIK (GUS ISHOM)

Muhammad Ishomuddin Hadzik atau yang biasa di panggil Gus Ishom merupakan cucu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari pasangan Chodidjah Hasyim – Muhammad Hadzik Mahbub. Lahir di Kediri, 18 Juli 1965, sejak kecil telah menunjukkan bakat yang mendalam terhadap dunia keilmuan khususnya tentang kitab kuning. Sejak kelahirannya, Ishom kecil telah mendapat sentuhan barakah dari almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly dan almarhum almaghfurlah KH. Abdul Majid putra KH. Ma’ruf Kedung Lo.
Ketika proses kelahiran yang mengalami sedikit kesulitan, sang ayah M. Hadzik Mahbub sowan kepada almarhum almaghfurlah KH. Abdul Majid agar berkenan memberikan doa agar proses kelahiran putranya berlangsung lancar. Akhirnya almarhum almaghfurlah KH. Abdul Majid memberikan segelas air putih kepada M. Hadzik Mahbub agar diminumkan kepada istrinya. Setelah itu air segera diminumkan oleh M. Hadzik Mahbub kepada istrinya. Tidak lama kemudian, lahirlah bayi laki-laki dirumah sakit Kediri. Segera almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly dikabari tentang kelahiran tersebut. Ketika almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly datang ke rumah sakit dan memberi nama bayi laki-laki tesebut dengan nama Ishomuddin.
Setelah itu, kehidupan Ishom kecil dibawa ke Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Sejak kecil, Ishom telah diperkenalkan kepada kehidupan pesantren yang sarat dengan pendidikan agama. Pada usia yang tergolong anak-anak, Ishom telah menunjukkan ketertarikan kepada ilmu-ilmu agama. Pada usia 7 tahun, setiap bulan ramadhan, Ishom kecil selalu melakukan tarawih dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Tujuannya adalah memilh diantara imam-imam yang terbaik bacaan Al-Qur annya agar dia bisa belajar membaca Al-Qur an kepada imam tersebut. Setelah menemukan imam yang bacaannya cocok dengannya, Ishom kecil segera matur kepada sang ibu bahwa dia ingin mengaji Al-Qur an kepada imam itu.
Diluar bulan ramadhan, Ishom kecil juga shalat maghrib berjamaah dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Pada saat itu, shalat jamaah sering dipimpin oleh almarhum almaghfurlah KH. Muhammad Idris Kamali, menantu Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Setiap selesai berdoa’ tak lupa kyai Idris demikian panggilan sehari-hari, selalu meniup kening Ishom kecil sambil diiringi dengan doa barakah.

KH.ISHOMUDDIN HADZIK (GUS ISHOM)


Pada waktu bersekolah di SDN Cukir I, sosok Ishom kecil telah menonjol diantara teman-temannya. Dari segi pelajaran, nilai yang didapat selalu diatas teman-temannya. Pada saat memasuki bangku sekolah lanjutan, Ishom yang telah beranjak remaja, memilih pagi hari untuk bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng dan siang harinya di SMP A. Wahid Hasyim. Sungguh semangat belajar yang sangat kuat untuk usia anak-anak.
Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ishom memutuskan untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Dibawah bimbingan langsung almarhum almaghfurlah KH. Mahrus Aly, gus Ishom yang telah beranjak remaja semakin mendapat bekal ilmu agama dan kitab kuning semaikin banyak. Ketertarikannya kepada kitab kuning ditambah riyadhah yang kuat, membuatnya semakin lancar dalam menuntut ilmu. Berbagai kitab yang tergolong kitab besar dan tidak semua santri mampu membacanya dan memahaminya, dengan mudah di “lahap” oleh gus Ishom. Otak yang cerdas, pikiran yang cemerlang menjadikannya mudah dalam memahami tentang suatu hal. 11 tahun adalah waktu yang cukup bagi gus Ishom menimba ilmu di pondok pesantrten Lirboyo Kediri, termasuk ketika menjadi santri kilat ketika ramadhan diberbagai pesantren lainnya.
Pada tahun 1991, gus Ishom pulang kembali ke Tebuireng untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari selama nyantri di Pondok Pesantren Liboyo Kediri serta pesantren lainnya. Sikap rendah hati, alim, tidak neko-neko membuat gus Ishom banyak mendapat simpati masyarakat sekitar walaupun baru pulang dari pondok pesantren. Kealimannya dalam hal kitab kuning, membuat gus Ishom bersentuhan langsung dengan karya sang kakek Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Beberapa kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari diterbitkan dan dibacanya pada bulan ramadhan di masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diikuti oleh ribuan peserta sehingga kitab-kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dikenal oleh masyarakat luas. Selain telah menerbitkan sebagian kitab karya kakeknya, gus Ishom juga menulis beberapa kitab yaitu : 1. Audhohul Bayan Fi Ma Yata’allq Bi Wadhoifir Ramadhan. 2. Miftahul Falah Fi Ahaditsin Nikah. 3. Irsyadul Mukminin.
Tidak hanya dalam urusan ilmu agama, gus Ishom cukup memahami tentang masalah sosial, budaya serta politik. Cukup sering tulisannya menghiasi berbagai halaman media massa semisal harian Surya, Jawa Pos, Republika dan lain-lain. Pengalaman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang, membuat pengalaman politiknya semakin tajam.
Selain menulis kitab dan beberapa artikel di media massa, gus Ishom juga merupakan seorang muballigh yang handal. Lisan yang fasih, bahasa yang lugas serta ilmu yang tinggi, membuat setiap ceramah yang disampaikan olehnya selalu menarik untuk disimak. Tidak banyak orang bisa menulis kitab, artikel, cerpen dan berpidato. Gus Ishom merupakan sosok serba bisa yang diharapkan menjadi kader NU yang mumpuni.
Pada tanggal 23 Januari 2000, setelah menemukan calon istri bernama Nia Dzaniati Anwar yang berasal dari Pacitan, dikomplek pemakaman keluarga Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, gus Ishom melangsungkan pernikahan dengan akad nikah dilakukan oleh gus Dur yang saat itu menjabat presiden. dengan disaksikan oleh para kyai

.Penulis teringat waktu kuliah dulu, beliau sempat menjadi dosen di INSTITUT KEISLAMAN HASYIM ASYARI (IKAHA) beliau memberikan desertasi kuliah yang luar biasa tentang KONTEKSTUALISASI KITAB KUNING , bagaimana mencoba mengaktualisasikan khazanah-khazanah kitab-kitab karya ulama terdahulu yang begitu luar biasa banyaknya. Dan gagasan ini adalah adalah sesuatu yang berharga bagi penulis untuk dapat menginterprestasikan kajian-kajian kitab salaf agar dapat di implementasikan pada masa kini.Dan hingga saat ini gagasan itu hanya sebuah wacana dikalangan ulama NU dan belum ditemukan solusi terhadap gagasan tersebut.

Pada akhir tahun 2002, ketika bulan ramadhan gus Ishom mengalami sakit pada bagian betis yang diduga oleh dokter sebagai gejala asam urat akut. Berbagai pengobatan dilakukan, akan tetapi tidak membawa hasil. Akhirnya ketika sakit yang semakin parah, gus Ishom dirujuk ke Surabaya dan disanalah diketahui bahwa gus Ishom menderita kanker yang tergolong langka dan telah mencapai stadium III. Pengobatan melalui kemoterapi dan berbagai upaya alternatif telah dilakukan. Akan tetapi Sang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamiin memiliki kehendak lain. Pada tanggal 26 Juli 2003 pukul 6.30 WIB gus Ishom dipanggil menghadap Allah SWT. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak putra – putri yang bernama Muhammad Hasyim Anta Maulana dan La Tahzan Innallaha Ma’ana. Gus Dur yang mengakadkan nikahnya, Gus Dur pula yang mensholati pertama kali jenazahnya. Akad nikah sebagai pembuka kehidupan baru dilaksanakan di komplek makam keluarga Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Dikomplek itu pula gus Ishom menutup kehidupannya. Gerimis yang turun dimusim kemarau ketika pembacaan talqin seolah menyampaikan duka dan siraman rahmat dari Allah SWT. Selamat jalan kakakku, sahabatku, guruku. Semoga engkau menemukan kedamaian di sisi Allah nan Maha Agung.

KHUTBAH TERAKHIR NABI MUHAMMAD SAW

Khotbah Nabi Muhammad SAW untuk yang terakhir kalinya disampaikan pada 9 Zulhijjah Tahun10 Hijriah di lembah Uranah, Gunung Arafah. Hingga saat ini pada tanggal 9 Zulhijah menandai telah dimulainya ibadah haji, yakni menjalankan rangkaian ritus paling penting dari ibadah haji sebagai peristiwa ziarah terbesar dalam sejarah agama-agama.
Mereka mengenakan pakaian ihram, bergerak dari Mekkah untuk wukuf (berdiam) di Padang Arafah, timur Mekkah, hingga terbit matahari pada 9 Zulhijah. Dari Arafah, mereka kembali ke Mekkah dengan menyinggahi Masy’ar/Muzdalifah (sepanjang malam), bergerak ke dan tinggal di Mina mulai fajar pada 10 Zulhijah (hari raya Kurban), 11, dan 12 Zulhijah.

Nabi Muhammad SAW pernah menegaskan, al-hajju ’Arafah, maksudnya haji adalah berkumpul di Padang Arafah. Semua ras manusia ada di sini, tanpa perbedaan. Ini mencerminkan pandangan Islam yang kuat mengenai egalitarianisme bahwa di mata Tuhan, manusia sama dan sederajat, yang membedakan hanya takwa dan amal saleh, yaitu kerja kemanusiaan yang dilakukan sepanjang hidupnya.

Kenangan yang selalu diingat saat di Arafah adalah Khotbah Terakhir (khutbat-u ‘l-wada’) Nabi, yang menegaskan mengenai prinsip hak asasi manusia (HAM). Saat itu, Nabi sudah mulai sakit-sakitan, yang menyebabkan beliau kemudian wafat. Maka, khotbah Nabi disebut “Khotbah Terakhir”. Nabi mengingatkan, “Wahai manusia, ingatlah Allah! Ingatlah Allah berkenaan dengan agamamu dan amanat-amanatmu. Ingatlah Allah berkenaan dengan orang yang kamu kuasai dengan tanganmu.”

Berikut petikan khotbah terakhir Rasulullah SAW:

Wahai manusia, dengarkanlah baik-baik apa yang hendak Ku katakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini. Oleh karena itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia, sebagaimana engkau menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanatkan kepadamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah engkau sakiti siapapun agar orang lain tidak menyakitimu. Ingatlah bahwa sesungguhnya engkau akan menemui Tuhan-mu dan Dia pasti membuat perhitungan atas segala amalan kalian. Allah telah mengharamkan riba, oleh sebab itu segala urusan yang melibatkan riba tinggalkan mulai sekarang.

Waspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agamamu. Dia telah putus asa untuk menyesatkan kalian dalam dosa besar, maka berjaga-jagalah supaya kalian tidak mengikutinya dalam dosa kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kalian menpunyai hak atas isteri kalian, mereka juga mempunyai hak di atas kalian. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka keatas kalian maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kalian dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka karena sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kalian yang setia. Dan hak kalian atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kalian tidak sukai ke dalam rumah kalian dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia, dengarkanlah dengan sungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah sholat lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikanlah zakat dari harta kekayaan kalian, kerjakanlah ‘ibadah Haji’ sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara atas Muslim yang lainnya. Kalian semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.

Ingatlah, bahwa kalian akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggung- jawabkan di atas segala apa yang telah kalian kerjakan. Oleh karena itu waspadalah agar jangan sekali-kali kalian keluar dari landasan kebenaran setelah ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang setelahku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh karena itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kalian. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang sekiranya kalian berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. Saksikanlah ya ALLAH, bahwa telah aku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hamba Mu. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

WASPADAI BARAT YANG MENODAI ISLAM

ADA SERANGAN BERENCANA YANG MENODAI AGAMA ISLAM

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mensinyalir, saat ini ada serangan berencana yang sistemik untuk menodai agama Islam. Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religions and Peace (WCRP) mengatakan hal itu menyusul tindakan sejumlah oknum di Denmark yang menggelar lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW.

“Fonemana ini menunjukan bahwa saat ini ada serangan berencana yang dilakukan secara sitematik untuk menodai kesucian agama Islam,” kata Hasyim kepada NU Online di kediamannya di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, Ahad (8/10). Ditegaskannya, ada serangan yang berencana, karena belakangan berulang kali terjadi tindakan yang menyinggung perasaan umat Islam.

Hasyim menambahkan, kejadian itu telah membantah anggapan masyarakat, bahwa umat Islam adalah sumber ektrimisme, karena yang dilakukan umat Islam selama ini hanya sebatas reaksi dari kekecewaan terhadap kejadian yang telah terjadi berulang-ulang.

“Sehingga tidak bisa disalahkan, bahwa serangan terhadap Islam terasa sebuah konspirasi. Pembangunan opini dunia, yang mengesankan Islam sebagai potensi konflik ternyata tidak secara faktual. Reaksi-reaksi umat Islam lebih banyak bersifat reaktif dari pada ofensif,” ungkap Hasyim yang juga mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur ini.

Lebih lanjut, Hasyim meminta kepada umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk meningkatkan ikatan persaudaraan, agar tidak mudah dipecah oleh pihak-pihak yang ingin merusak Islam. ”Dengan demikian, maka Umat Islam seharusnya meningkatkan ukhuwah Islamiyah agar tidak tercabik-cabik oleh kekuatan Islamophobia (ketakutan terhadap Islam),” tuturnya.

Sebagai Presiden WCRP, Hasyim merasa berkewajiban menegur pihak-pihak yang menjadi sumber konflik agama tersebut. Sebab, jika hal itu dibiarkan akan semakin meningkatkan konflik agama yang sulit dibendung. ”WCRP berhak dan berkewajiban menegur gerakan-gerakan yang menjadi sumber konflik itu, dari agama apapun,” katanya.

Sebagaimana diketahui, stasiun televisi negara Denmark menyiarkan rekaman video amatir yang memperlihatkan beberapa anggota muda Partai Anti-imigran Rakyat Denmark (DPP) terlibat dalam lomba menggambar kartun yang menghina Nabi Muhammad.

Dalam rekaman itu terlihat beberapa anggota muda yang berusia 20-an dan 30-an tahun sedang minum-minum, bernyanyi dan menggambar kartun Nabi Muhammad.

Wajah-wajah anggota partai itu sengaja dikaburkan. Namun gambar yang mereka buat terlihat jelas. Salah satu kartun menggambarkan Muhammad seperti unta yang sedang buang air kecil dan minum bir. Kartun lainnya memperlihatkan Nabi Muhammad dikelilingi oleh botol-botol bir. (NU ON LINE 30 AUG 2007)

BERCANDANYA NABI MUHAMMAD SAW

Pada suatu saat, ketika Ali bin Abi Thalib masih kanak-kanak, pernah makan kurma bersama-sama Rasulullah. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji-biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam-diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah.

Ali pun berkata, “Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.” Nabi pun tertawa dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma berikut biji-bijinya.”

(disarikan dari Sirah Nabi).

KARIKATUR NABI

IRAN PROTES SWEDIA ATAS KARIKATUR NABI MUHAMMAD

 

Belum hilang luka lama ini akibat pemuatan karikatur Nabi Muhammad saw pada sebuah majalah Den mark kini Surat kabar terbitan swedia memuat karikatur Nabi Muhammad berbadan anjing. Iran memrotes penerbitan karikatur menggambarkan Nabi Muhammad sebagai anjing, kata wanita jurubicara kementerian luar negeri Swedia hari Selasa.

Kuasa Usaha Swedia Gunilla von Bahr hari Senin dipanggil ke kementerian luar negeri Iran, yang pejabat mengungkapkan pandangan mereka bahwa gambar itu menghina Nabi Muhammad, kata wanita jurubicara Sofia Karlberg, dengan menambahkan bahwa pemerintah Swedia tidak mempunyai keterangan lebih lanjut.

Karikatur itu, diterbitkan 19 Agustus di suratkabar daerah “Nerikes Allehanda”, menggambarkan kepala Muhammad dengan badan anjing.

Kartun buatan seniman Lars Vilks itu sebelumnya memicu kecaman kelompok Muslim dan lain-lain di Swedia serta ditarik dari pameran seni.

Redaktur “Nerikes Allehanda” Ulf Johansson membela keputusan menerbitkan kartun itu, yang disebutnya sejalan dengan pasal kebebasan berbicara dan swasensor.

Pada September 2005, penerbitan 12 karikatur Muhammad di suratkabar Denmark memicu kemarahan banyak negara Muslim pada Januari dan Februari tahun berikutnya.

Dua organisasi Muslim di Prancis tengah Februari mengajukan gugatan terhadap majalah “Charlie Hebdo”, yang menerbitkan ulang kartun Denmark penghina Nabi Muhammad.

Masjid Agung Paris dan Persatuan Organisasi Islam Prancis menuduh majalah itu menghina orang atas dasar agama dan memicu kebencian rasial dengan menerbitkan ulang karikatur, yang diterbitkan koran Denmark tahun lalu.

Suratkabar Prancis “Liberation”, yang menyebut pengadilan itu “tolol” juga menerbitkan ulang kartun tersebut sebagai kesetiakawanan dengan majalah itu.

Kedua organisasi Muslim itu menyatakan keputusan “Charlie Hebdo” mencetak ulang karikatur menghujat itu merupakan “bagian dari rencana matang menghasut dengan tujuan menghina kepercayaan paling mendalam masyarakat Muslim”.

Namun “Charlie Hebdo” dan “Liberation” menyatakan lembaga Muslim itu tidak memiliki hak membatasi yang mereka sebut “kebebasan berbicara”.

Jajak pendapat terbitan mingguan Katolik “Pelerin” menunjukkan 79 persen yakin itu tidak bisa diterima untuk mengolok-olok agama secara terbuka.

Perbantahan di televisi antara penerbit “Charlie Hebdo”, Philippe Val, dan takmir masjid agung Paris, Dalil Boubakeur, juga menunjukkan perbedaan mendalam di antara keduanya, terutama menyangkut pembatasan kebebasan berbicara, kata Islamonline.net.

Boubakeur menyatakan kartun menunjukkan Nabi Muhammad dengan bom di sorbannya tidak sekedar ejekan, tapi merupakan penghinaan terhadap semua Muslim bahwa mereka teroris.

Pekan sebelumnya, Boubakeur menyatakan ingin menunjukkan bahwa penerbitan ulang kartun itu merupakan penghasutan setara dengan tindakan pengelakan anti-Semitisme atau Bencana Yahudi, yang keduanya dilarang berdasarkan atas undang-undang Prancis.

Karikatur tersebut pertama kali muncul di suratkabar Denmark “Jyllands-Posten” pada 30 September 2005. Kartun itu kemudian dicetak ulang di beberapa suratkabar Eropa, sehingga mengundang kemarahan Muslim seluruh dunia.

Pada Oktober 2006, pengadilan Denmark menolak tuduhan fitnah, yang diajukan beberapa lembaga Muslim terhadap “Jyllands-Posten”, dengan pengadilan itu menyatakan tidak ada alasan bisa dipercaya bahwa kartun itu bertujuan menghina atau merugikan.

Majalah mahasiswa universitas Cambridge, yang menerbitkan kembali salah satu kartun Nabi Muhammad, yang memicu protes seluruh dunia, tidak akan diperiksa, kata kepolisian Inggris tengah Februari.

Namun, universitas terkemuka itu menyatakan mahasiswa penerbit kartun itu di “Clareification”, majalah perguruan tinggi Clare College, mereka tanyai dan dapat dihukum. (NU ON LINE 29 AUG 2007 )

AL WALID AL HABIB ABDURROHMAN ASSEGAF

                                                            
                                                         HABIB ABDURRAHMAN ASSEQAF

Habib ‘Abdur Rahman bin Ahmad bin ‘Abdul Qadir as-asseqaf dilahirkan di Cimanggu, Bogor. Beliau telah menjadi yatim sejak kecil lagi apabila ayahandanya berpulang ke rahmatUllah dan meninggalkan beliau dalam keadaan dhoif dan miskin. Bahkan beliau sewaktu-waktu terkenang zaman kanak-kanaknya pernah menyatakan: “Barangkali dari seluruh anak yatim, yang termiskin adalah saya. Waktu Lebaran, anak-anak mengenakan sandal atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apa lagi sepatu.”

Tapi kemiskinan tidak sekali-kali menghalangi beliau dalam menuntut ilmu agama. Bermula dengan pendidikan di Jamiat al-Khair, Jakarta, dan seterusnya menekuni belajar dengan para ulama sepuh seperti Habib ‘Abdullah bin Muhsin al-Aththas rahimahUllah yang lebih terkenal dengan panggilan Habib Empang Bogor. Beliau sanggup berjalan kaki berbatu-batu semata-mata untuk hadir pengajian Habib Empang Bogor. Selain berguru dengan Habib Empang Bogor, beliau turut menjadi murid kepada Habib ‘Alwi bin Thahir al-Haddad (mantan Mufti Johor), Habib ‘Ali bin Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Ali bin Husein al-Aththas (Habib Ali Bungur), Habib Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) dan beberapa orang guru lagi. Dengan ketekunan, kesungguhan serta keikhlasannya, beliau dapat menguasai segala pelajaran yang diberikan dengan baik. Penguasaan ilmu-ilmu alat seperti nahwu telah membuat guru-gurunya kagum, bahkan menganjurkan agar murid-murid mereka yang lain untuk belajar dengan beliau.

Maka bermulalah hidup beliau menjadi penabur dan penyebar ilmu di berbagai madrasah sehinggalah akhirnya beliau mendirikan pusat pendidikan beliau sendiri yang dinamakan Madrasah Tsaqafah Islamiyyah di Bukit Duri, Jakarta. Dunia pendidikan memang tidak mungkin dipisahkan dari jiwa almarhum Habib ‘Abdur Rahman, yang hampir seluruh umurnya dibaktikan untuk ilmu dan pendidikan sehingga dia disebut sebagai gurunya para ulama. Sungguh almarhum adalah seorang pembimbing yang siang dan malamnya menyaksikan keluhuran akhlak dan budi pekertinya, termasyhur dengan kelembutan perangainya, termasyhur dengan khusyu’nya, termasyhur dengan keramahannya oleh segenap kalangan masyarakat, orang-orang miskin, orang kaya, pedagang, petani, kiyai, ulama dan orang-orang awam yang masih belum mendapat hidayah pun menyaksikan kemuliaan akhlak dan keramahan beliau rahimahullah, termasyhur dengan keluasan ilmunya, guru besar bagi para Kiyai dan Fuqaha di Indonesia, siang dan malamnya ibadah, rumahnya adalah madrasahnya, makan dan minumnya selalu bersama tamunya, ayah dan ibu untuk ribuan murid-muridnya.

Selain meninggalkan anak-anak kandung serta ribuan murid yang menyambung usahanya, beliau turut meninggalkan karangan-karangan bukan sahaja dalam Bahasa ‘Arab tetapi juga dalam Bahasa Jawa dan Sunda. Karangannya pula tidak terbatas pada satu cabang ilmu sahaja, tetapi berbagai macam ilmu, mulai dari tauhid, tafsir, akhlak, fiqh hinggalah sastera. Antara karangannya yang dicetak untuk kegunaan santri-santrinya:-

1. Hilyatul Janan fi hadyil Quran;
2. Safinatus Sa`id;
3. Misbahuz Zaman;
4. Bunyatul Ummahat; dan

AL WALID ALHABIB ABDUROHMAN ASSEGAF

Maka bulan mawlid tahun ini menyaksikan Kepergian beliau Hari Isnin, ba’da zhuhur tanggal 7 Rabi`ul Awwal 1428H (26 Mac 2007) kembali seorang wali berpulang kerahmatullohmat. Mudah-mudahan Allah menempatkan beliau bersama para leluhur beliau sehingga Junjungan Nabi s.a.w. dan semoga Allah jadikan bagi kita yang ditinggalkannya pengganti.

ULAMA BETAWI…

KH.ABDULLOH SYAFEI

KH.ABDULLOH SYAFEI
Kampung Bali Matraman 1974. Beberapa saat sebelum adzan Subuh dikumandangkan oleh seorang mu’adzin di Masjid Al-Barkah, lelaki tua berbaju koko putih dan berkopiah haji itu telah duduk bersila di mimbar masjid. Betapa khusuknya ia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bibirnya melafazkan Asmaul Husna. Tubuhnya yang tegap merunduk. Matanya berkaca-kaca. Ia memohon kepada Allah agar perjuangannya mencerdaskan bangsa dapat terlaksana dengan baik.

Lelaki tua bertubuh gemuk itu siapa lagi kalau bukan K.H.Abdul Syafi’ie. Kiprahnya dalam menyiarkan agama Islam di Indonesia memang sudah tidak asing lagi. Tokoh Betawi kelahiran Kampung Bali Matraman, 10 Agustus 1910, ini sering melakukan dakwah, baik di Perguruan As-Syafi’iyah yang dirintisnya sejak tahun 1930 maupun berbagai pelosok Tanah Air. Kehadirannya tentu saja selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat dari berbagai lapisan serta para ulama yang mengundangnya Ceramahnya di Radio Dakwah As-Syafi’iyah yang didirikannya pada tahun 1967, juga tak lepas dari telinga masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Dunia pendidikan pun menyatu dalam dirinya. Melalui Perguruan As-Syafi’iyah, ulama yang kerap dipanggil H. Dulah ini, berusaha memberikan pendidikan agama semaksimal mungkin kepada para santri. Makanya, tak heran, jika sebagian santri yang diasuhnya puluhan tahun kemudian menjadi ulama terkenal.

Kedisiplinan menuntut ilmu serta menjalankan ibadah yang diterapkan H. Dulah kepada para santri memang tidak tanggung-tanggung. Ini tentu pernah dialami bagi siapa saja yang pernah mondok di perguruan tersebut. Kesan yang mendalam terjadi ketika beberapa menit sebelum melaksanakan shalat Subuh. Saat-saat seperti itu, H. Dulah selalu membangunkan para santri serta guru-guru yang tinggal di kompleks perguruan tersebut.

Ketika pintu tempat pemukiman diketuk-ketuk dengan keras, para santri sudah tahu kalau yang mengetuk-ketuk itu pasti Pak Kiyai. Ini memang pengalaman yang menarik bagi para santri. Bagi santri yang gampang bangun setelah mendengar ketukan pertama atau sudah terbiasa bangun sebelum Pak Kiyai membangunkan tentu saja buru-buru pergi ke kamar mandi. Tapi, bagi yang kebluk, ini yang menjadi keprihatinan Pak Kiyai.

Pak Kiyai boleh jadi marah. Santri yang kebluk itu pun dibangunkannya berkali-kali. Ia juga geram kalau santri itu malah mengigau. Maka, lewat usaha keras untuk membangunkannya, akhirnya si santri itu pun bangun. Setelah melihat Pak Kiyai yang membangunkannya, si santri bergegas ke kamar mandi.

Usai shalat berjamaah di Masjid Al-Barkah, para santri acapkali disuruh datang ke rumah Pak Kiyai. Letak tempat tinggal Pak Kiyai sekitar 200 meter dari masjid. Sebagian besar santri laki-lak ini tentu saja bertanya-tanya di dalam hati : ada apa gerangan sehingga PaK Kiyai memanggil. Memang, perintah Pak Kiyai ini seringkali mendadak. Tidak diduga sebelumnya. Namun, karena ini perintah yang harus ditaati, para santri pun segera ke rumah Pak Kiyai.

Sesampainya di rumah Pak Kiyai, Ustadz Rohimi (alm), salah seorang guru di madrasah menyuruh para santri untuk masuk ke ruang tamu. Pak Kiyai masih ada di dalam kamar saat itu. Para santri tentu masih diselimuti tanda tanya di dalam hati tentang panggilan secara mendadak dari Pak Kiyai. Salah seorang santri menatap jendela. Matahari mulai menampakkan wajah.

Sepuluh menit kemudian, Pak Kiyai muncul. Para santri buruburu mencium tangannya. Tapi, Pak Kiyai segera menarik tangannya. Ini selalu dilakukan pada siapa saja. Para santri tak mempermasalahkan soal itu.

Namun, hatinya deg-degan saat Pak Kiyai menunjuk salah seorang santri untuk menguraikan ilmu fiqih yang telah diperolehnya di madrasah. Kebetulan, buku-buku fiqih di As-Syafi’iyah menggunakan bahasa Arab. Makanya, saat menguraikan ilmu tersebut, para santri harus menggunakan bahasa Arab.

Pak Kiyai akan menggeleng-gelengkan kepala kalau penguraian itu tidak tepat, apalagi salah. Maka, dengan tegas ia menyuruh santri itu untuk mempelajarinya kembali. Suatu saat, santri tersebut akan dipanggil lagi. Bagi yang mampu menjelaskan dengan benar ilmu fiqih tadi, Pak Kiyai pasti manggut-manggut. Ia mendekati santri itu dan mengusap-usap kepalanya disertai dengan doa.

Panggilan mendadak ini, tentu saja menjadi pelajaran berharga. Kedisiplinan menuntut ilmu akan tertanam di dalam hati. Kapan saja dan di mana saja, para santri selalu mempelajari kembali berbagai ilmu yang diperolehnya di madrasah.

Di tengah kesibukannya mendidik para santri, baik di Perguruan As-Syafi’iyah yang terletak di Kampung Bali Matraman maupun di jatiwaringin, juga berdakwah di berbagai tempat, termasuk di Majelis Taklim As-Syafi’iyah yang berlangsung setiap hari Minggu. Kepiawaiannya menyampaikan ajaran agama tak perlu diragukan lagi. Dia lah satu-satunya kiyai yang mampu menggugah hati masyarakat untuk larut dalam wejangannya. Banyak masyarakat, begitu juga ulama, yang mengucurkan air mata ketika ia berceramah tentang alam kubur. K.H. Abdullah Syafi’memang ulama yang mempunyai kharisma yang tinggi. Ia juga tokoh yang mampu menegakkan kebenaran. Malah, saat Gubernur Ali Sadikin membuat kebijakan tentang masalah perjudian dan makam di DKI Jakarta, Kiyai menentang keras. Karena itulah, pada 1973, ia bersama ulama lainnya mendirikan Majelis Muzakroh Ulama. Untuk merealisasikan kegiatan itu, K.H. Abdullah Syafi’ie menghubungi beberapa ulama terkemuka, antara lain K.H. Abdussalam Djaelani, K.H. Abdullah Musa, dan sebagainya.

Dalam majelis itu dibahas tentang permasalahan tentang berbagai masalah, seperti masalah perjudian, P4, kuburan, dan sebagainya. K.H. Abdullah Syafi’ie memang sangat peduli terhadap permasalahan yang akan menjermuskan masyarakat. Karena itu, ia dipandang sebagai ulama yang vokal, tegas, dan jujur. Maka, tak heran, kalau para pejabat di DKI Jakarta khususnya sangat menyukai Pak Kiyai. Malah, Menteri Agama Munawir Sadzali mengakuinya sebagai guru yang patut dicontoh dan ditiru. Meskipun ia aktif di Masyumi, tapi sangat dekat dengan tokoh-tokoh lain dari berbagai organisasi, seperti dengan Buya Hamka, K.H. Hasan Basri,K.H. Idham Chalid, dan banyak lagi.

Karena itu, para pejabat, termasuk Ali Sadikin, selalu mendukung gagasan yang disampaikan oleh K.H. Abdullah Syafi’ie. Salah satunya, tentang pengembangan Perguruan As-Syafi’iyah dan perenovasian Masjid Al-Barkah. Dengan demikian, perguruan yang semula hanya terletak di Kampung Bali Matraman, akhir tahun 60-an merambah ke daerah lain, seperti jatiwaringin, Cilangkap, Jakasampurna, Payangan, Cogrek, dan sebagainya. Malah, Jatiwaringin dijadikannya sebagai Kota Pelajar. Di Jatiwaringin terdapat Pesantren Putra, Pesantren Putri, Pesantren Tradisional, Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah, Taman Kanak-kanak, dan Universitas Islam As-Syafi’iyah.

Kiyai juga merupakan salah satu pendiri MUI (Majelis Ulama Indonesia). Selain pernah menjabat sebagai Wakil Ketua di MUI Pusat, juga sebagai Ketua Umum MUI DKI Jakarta. Ia juga salah seorang yang giat mengadakan pendidikan dalam pemberantasan buta huruf Al Quran. Di samping itu, kiyai yang cuma mengenyam pendidikan SR kelas dua ini, juga dipercaya sebagai pengurus Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT).

Semasa kecil, K.H. Abdullah Syafi’ie banyak menuntut ilmu dari para ustadz di mana pun berada. Guru-gurunya antara lain Ustadz Marzuki, Ustadz Musanif, Ustadz Sabeki, Habib Ali Al Habsyi, Habib Alwi Bin Thahir, Habib Alwi Al Hadad, dan banyak lagi. Ia juga pernah mengenyam pendidiikan agama di Makkah.

Dari ilmu agama yang diperolehnya itu, saat usia 17 tahun ia membuka madrasah di kampung kelahirannya. Lembaga pendidikan agama yang menggunakan tempat bekas kandang sapi itu dinamakan Madrasah Islamiyah Ibtidaiyah. Puluhan tahun kemudian, berganti nama menjadi AsSyafi’iyah. Nama tersebut merupakan perpaduan antara nama Syafi’ie dengan mazhab Imam Syafi’I yang dianutnya.

Tanggal 3 September 1985, tokoh panutan masyarakat ini meninggal dunia. Menjelang meninggalnya beliau menyuruh anaknya abdul rosyid untuk membacakan kitab dihadapan jama’ah majlis taklim dan dengan suara yang terbata-bata beliau mendoakan anaknya, beliau meninggal dunia dipangkuan anaknya sewaktu dibawa kerumah sakit….innalillahi wa innna ilahi rojiun