Monthly Archives: Agustus 2007

BERCANDANYA NABI MUHAMMAD SAW

Pada suatu saat, ketika Ali bin Abi Thalib masih kanak-kanak, pernah makan kurma bersama-sama Rasulullah. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji-biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam-diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah.

Ali pun berkata, “Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.” Nabi pun tertawa dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma berikut biji-bijinya.”

(disarikan dari Sirah Nabi).

KARIKATUR NABI

IRAN PROTES SWEDIA ATAS KARIKATUR NABI MUHAMMAD

 

Belum hilang luka lama ini akibat pemuatan karikatur Nabi Muhammad saw pada sebuah majalah Den mark kini Surat kabar terbitan swedia memuat karikatur Nabi Muhammad berbadan anjing. Iran memrotes penerbitan karikatur menggambarkan Nabi Muhammad sebagai anjing, kata wanita jurubicara kementerian luar negeri Swedia hari Selasa.

Kuasa Usaha Swedia Gunilla von Bahr hari Senin dipanggil ke kementerian luar negeri Iran, yang pejabat mengungkapkan pandangan mereka bahwa gambar itu menghina Nabi Muhammad, kata wanita jurubicara Sofia Karlberg, dengan menambahkan bahwa pemerintah Swedia tidak mempunyai keterangan lebih lanjut.

Karikatur itu, diterbitkan 19 Agustus di suratkabar daerah “Nerikes Allehanda”, menggambarkan kepala Muhammad dengan badan anjing.

Kartun buatan seniman Lars Vilks itu sebelumnya memicu kecaman kelompok Muslim dan lain-lain di Swedia serta ditarik dari pameran seni.

Redaktur “Nerikes Allehanda” Ulf Johansson membela keputusan menerbitkan kartun itu, yang disebutnya sejalan dengan pasal kebebasan berbicara dan swasensor.

Pada September 2005, penerbitan 12 karikatur Muhammad di suratkabar Denmark memicu kemarahan banyak negara Muslim pada Januari dan Februari tahun berikutnya.

Dua organisasi Muslim di Prancis tengah Februari mengajukan gugatan terhadap majalah “Charlie Hebdo”, yang menerbitkan ulang kartun Denmark penghina Nabi Muhammad.

Masjid Agung Paris dan Persatuan Organisasi Islam Prancis menuduh majalah itu menghina orang atas dasar agama dan memicu kebencian rasial dengan menerbitkan ulang karikatur, yang diterbitkan koran Denmark tahun lalu.

Suratkabar Prancis “Liberation”, yang menyebut pengadilan itu “tolol” juga menerbitkan ulang kartun tersebut sebagai kesetiakawanan dengan majalah itu.

Kedua organisasi Muslim itu menyatakan keputusan “Charlie Hebdo” mencetak ulang karikatur menghujat itu merupakan “bagian dari rencana matang menghasut dengan tujuan menghina kepercayaan paling mendalam masyarakat Muslim”.

Namun “Charlie Hebdo” dan “Liberation” menyatakan lembaga Muslim itu tidak memiliki hak membatasi yang mereka sebut “kebebasan berbicara”.

Jajak pendapat terbitan mingguan Katolik “Pelerin” menunjukkan 79 persen yakin itu tidak bisa diterima untuk mengolok-olok agama secara terbuka.

Perbantahan di televisi antara penerbit “Charlie Hebdo”, Philippe Val, dan takmir masjid agung Paris, Dalil Boubakeur, juga menunjukkan perbedaan mendalam di antara keduanya, terutama menyangkut pembatasan kebebasan berbicara, kata Islamonline.net.

Boubakeur menyatakan kartun menunjukkan Nabi Muhammad dengan bom di sorbannya tidak sekedar ejekan, tapi merupakan penghinaan terhadap semua Muslim bahwa mereka teroris.

Pekan sebelumnya, Boubakeur menyatakan ingin menunjukkan bahwa penerbitan ulang kartun itu merupakan penghasutan setara dengan tindakan pengelakan anti-Semitisme atau Bencana Yahudi, yang keduanya dilarang berdasarkan atas undang-undang Prancis.

Karikatur tersebut pertama kali muncul di suratkabar Denmark “Jyllands-Posten” pada 30 September 2005. Kartun itu kemudian dicetak ulang di beberapa suratkabar Eropa, sehingga mengundang kemarahan Muslim seluruh dunia.

Pada Oktober 2006, pengadilan Denmark menolak tuduhan fitnah, yang diajukan beberapa lembaga Muslim terhadap “Jyllands-Posten”, dengan pengadilan itu menyatakan tidak ada alasan bisa dipercaya bahwa kartun itu bertujuan menghina atau merugikan.

Majalah mahasiswa universitas Cambridge, yang menerbitkan kembali salah satu kartun Nabi Muhammad, yang memicu protes seluruh dunia, tidak akan diperiksa, kata kepolisian Inggris tengah Februari.

Namun, universitas terkemuka itu menyatakan mahasiswa penerbit kartun itu di “Clareification”, majalah perguruan tinggi Clare College, mereka tanyai dan dapat dihukum. (NU ON LINE 29 AUG 2007 )

AL WALID AL HABIB ABDURROHMAN ASSEGAF

                                                            
                                                         HABIB ABDURRAHMAN ASSEQAF

Habib ‘Abdur Rahman bin Ahmad bin ‘Abdul Qadir as-asseqaf dilahirkan di Cimanggu, Bogor. Beliau telah menjadi yatim sejak kecil lagi apabila ayahandanya berpulang ke rahmatUllah dan meninggalkan beliau dalam keadaan dhoif dan miskin. Bahkan beliau sewaktu-waktu terkenang zaman kanak-kanaknya pernah menyatakan: “Barangkali dari seluruh anak yatim, yang termiskin adalah saya. Waktu Lebaran, anak-anak mengenakan sandal atau sepatu, tapi saya tidak punya sandal apa lagi sepatu.”

Tapi kemiskinan tidak sekali-kali menghalangi beliau dalam menuntut ilmu agama. Bermula dengan pendidikan di Jamiat al-Khair, Jakarta, dan seterusnya menekuni belajar dengan para ulama sepuh seperti Habib ‘Abdullah bin Muhsin al-Aththas rahimahUllah yang lebih terkenal dengan panggilan Habib Empang Bogor. Beliau sanggup berjalan kaki berbatu-batu semata-mata untuk hadir pengajian Habib Empang Bogor. Selain berguru dengan Habib Empang Bogor, beliau turut menjadi murid kepada Habib ‘Alwi bin Thahir al-Haddad (mantan Mufti Johor), Habib ‘Ali bin Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Ali bin Husein al-Aththas (Habib Ali Bungur), Habib Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) dan beberapa orang guru lagi. Dengan ketekunan, kesungguhan serta keikhlasannya, beliau dapat menguasai segala pelajaran yang diberikan dengan baik. Penguasaan ilmu-ilmu alat seperti nahwu telah membuat guru-gurunya kagum, bahkan menganjurkan agar murid-murid mereka yang lain untuk belajar dengan beliau.

Maka bermulalah hidup beliau menjadi penabur dan penyebar ilmu di berbagai madrasah sehinggalah akhirnya beliau mendirikan pusat pendidikan beliau sendiri yang dinamakan Madrasah Tsaqafah Islamiyyah di Bukit Duri, Jakarta. Dunia pendidikan memang tidak mungkin dipisahkan dari jiwa almarhum Habib ‘Abdur Rahman, yang hampir seluruh umurnya dibaktikan untuk ilmu dan pendidikan sehingga dia disebut sebagai gurunya para ulama. Sungguh almarhum adalah seorang pembimbing yang siang dan malamnya menyaksikan keluhuran akhlak dan budi pekertinya, termasyhur dengan kelembutan perangainya, termasyhur dengan khusyu’nya, termasyhur dengan keramahannya oleh segenap kalangan masyarakat, orang-orang miskin, orang kaya, pedagang, petani, kiyai, ulama dan orang-orang awam yang masih belum mendapat hidayah pun menyaksikan kemuliaan akhlak dan keramahan beliau rahimahullah, termasyhur dengan keluasan ilmunya, guru besar bagi para Kiyai dan Fuqaha di Indonesia, siang dan malamnya ibadah, rumahnya adalah madrasahnya, makan dan minumnya selalu bersama tamunya, ayah dan ibu untuk ribuan murid-muridnya.

Selain meninggalkan anak-anak kandung serta ribuan murid yang menyambung usahanya, beliau turut meninggalkan karangan-karangan bukan sahaja dalam Bahasa ‘Arab tetapi juga dalam Bahasa Jawa dan Sunda. Karangannya pula tidak terbatas pada satu cabang ilmu sahaja, tetapi berbagai macam ilmu, mulai dari tauhid, tafsir, akhlak, fiqh hinggalah sastera. Antara karangannya yang dicetak untuk kegunaan santri-santrinya:-

1. Hilyatul Janan fi hadyil Quran;
2. Safinatus Sa`id;
3. Misbahuz Zaman;
4. Bunyatul Ummahat; dan

AL WALID ALHABIB ABDUROHMAN ASSEGAF

Maka bulan mawlid tahun ini menyaksikan Kepergian beliau Hari Isnin, ba’da zhuhur tanggal 7 Rabi`ul Awwal 1428H (26 Mac 2007) kembali seorang wali berpulang kerahmatullohmat. Mudah-mudahan Allah menempatkan beliau bersama para leluhur beliau sehingga Junjungan Nabi s.a.w. dan semoga Allah jadikan bagi kita yang ditinggalkannya pengganti.