Monthly Archives: Agustus 2007

SHOLAT GERHANA

Sholat Gerhana

Hari ini  tanggal 28 agustus 2007 tepatnya sore hari pukul 17.30 kita akan menyaksikan suatu penomena kebesaran Alloh swt yaitu gerhana bulan total.Sebagian orang menganggap terjadinya gerhana matahari dan bulan sebagai gejala alam biasa, sebagai peristiwa ilmiah yang bisa dinalar. Gerhana sekedar menjadi tontonan menarik yang bisa disaksikan beramai-ramai bersama keluarga dan handai tolan. Namun bagi yang merasa tunduk kepada keagungan Sang Perncipta, Allah SWT, gerhana adalah peristiwa penting yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada kekuatan Yang Maha Agung di luar batas kemampuan manusia; manusia yang paling merasa faham ilmu alam sekalipun. Mereka yang merasa rendah di hadapan Sang Pencipta akan menadahkan muka, menghadap Allah, mengerjakan shalat secara berjamaah. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan untuk itu.

Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari-Muslim)

Sayyidatuna A’isyah ra bercerita: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama para sahabat. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Berdasarkan redaksi hadits yang pertama di atas penamaan gerhana matahari dan bulan berbeda, sholat khusuf untuk gerhana bulan dan sholat kusuf untuk gerhana matahari.

Imam Maliki dan Syafi’i berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna A’isyah berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua roka’at dengan dua kali ruku’, berbeda dengan sholat Id dan Jum’at. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga terdapat penjelasan serupa, yakni sholat gerhana dikerjakan dua roka’at dengan dua kali ruku’, dan dijelaskan oleh Abu Umar bahwa hadits tersebut dinilai paling shahih.

Maka dengan begitu keistimewaan shalat gernana dibanding dengan shalat sunnah sunnah lainnya terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Apalagi dalam setiap ruku’ disunnahkan membaca tasbih berulang-ulang dan berlama-lama.

سُبْحَانِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

Tasbih berarti gerak yang dinamis seperti ketika bulan berrotasi (berputar mengelilingi kutubnya) dan berevolusi (mengelilingi) bumi, bumi berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari, atau ketika matahari berotasi dan berevolusi pada pusat galaksi Bimasakti. Namun pada saat terjadi gerhana, ada proses yang aneh dalam rotasi dan revolusi itu. Maka bertasbihlah! Maha Suci Allah, Yang Maha Agung!

Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:

1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih
dahulu. (Sebagai panduan lihat di rubrik IPTEK)
2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan,
Ash-shalatu jaami’ah.”
4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams)
atau gerhana bulan (khusufil-qamar),
menjadi imam atau ma’mum.

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى

5. Sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah
dan surat kembali

8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang
daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua,
bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua.
Misalnya rakaat pertama membaca surat Yasin (36)
dan ar-Rahman (55), lalu raka’at kedua
membaca al-Waqiah (56) dan al-Mulk (78)
9. Setelah sholat disunahkan untuk berkhutbah.

HABIB MUHAMMAD BIN HUSEIN BA’BUD

HABIB MUHAMMAD BIN HUSEIN BA’BUD

Habib Muhammad, begitu ia biasa disapa, dikenal sebagai guru para Habib di daerah Malang dan sekitarnya. Karena beliaulah yang pertama kali membuka pesantren dari kalangan habaib pada tahun 1940. Bisa dipastikan, Pesantren Darun Nasyiien yang didirikannya di Lawang, Malang, adalah pesantren kaum habaib yang pertama di Indonesia. Kalaupun sudah banyak lembaga pendidikan para habib yang berdiri sebelumnya, biasanya hanya berbentuk madrasah, bukan pesantren. Sudah tak terhitung lagi banyaknya alumnus Darun Nasyiien yang menjadi ulama di seluruh Indonesia. Rata-rata mereka selalu mengibarkan bendera Ahlussunnah Wal Jamaah ala Thariqah Alawiyin di tempat mereka berada. Nama Habib Muhammad bin Husein Ba’abud juga tak pernah hilang dari hati kaum muslimin kota Malang. Sampai sekarang. Masa Kecil di Surabaya Al-Ustadz Habib Muhammad bin Husein dilahirkan di daerah Ampel Masjid Surabaya. Tepatnya di sebuah rumah keluarga, sekitar 20 meter dari Masjid Ampel, pada malam Rabu 9 Dzulhijjah 1327 h. Menurut cerita ayahandanya (Habib Husein), saat akan melahirkan, ibunda beliau (Syarifah Ni’mah) mengalami kesukaran hingga membuatnya pingsan. Habib Husein bergegas mendatangi rumah Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya. Habib Abu Bakar memberikan air untuk diminumkan pada istrinya. Tak lama sesudah diminumkannya air tersebut, dengan kekuasaan Allah, Syarifah Ni’mah melahirkan dengan selamat. Habib Abu Bakar berpesan untuk dilaksanakan aqiqah dengan dua ekor kambing, diiringi pesan agar tidak usah mengundang seseorang pada waktu walimah, kecuali sanak keluarga Syarifah Ni’mah. Terlaksanalah walimah tersebut dengan dihadiri Habib Abu Bakar. Beliau pulalah yang memberi nama Muhammad, disertai pembacaan do’a-do’a dan Fatihah dari beliau. Pada saat berumur 7 tahun, Habib Muhammad berkhitan. Ayahandanya mengadakan walimah berskala besar dengan mengundang para kerabatnya. Setelah dikhitan, Habib Husein memasukkan putranya itu ke Madrasah al-Mu’allim Abdullah al-Maskati al-Kabir, sesuai dengan isyarat dari Habib Abu Bakar. Akan tetapi anaknya merasa tidak mendapat banyak dari madrasah tersebut. Tidak lama setelah belajar, Habib Husein memasukkannya ke Madrasah Al-Khoiriyah, juga di kawasan Ampel. Pelajaran di Madrasah Al-Khoiriyah waktu itu juga tidak seperti yang diharapkan, disebabkan tidak adanya kemampuan yang cukup dari para pengajarnya. Habib Muhammad pun merasa kurang mendapat pelajaran. Tapi setelah berada di kelas empat, terbukalah mata hatinya, terutama setelah datangnya para tenaga pengajar dari Tarim-Hadramaut. Di antara para guru itu adalah Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih dan Habib Hasan bin Abdulloh al-Kaf. Juga terdapat guru-guru lain yang mempunyai kemampuan cukup, seperti Habib Abdurrohman bin Nahsan bin Syahab. Semangat Habib Muhammad dalam menimba ilmu semakin bertambah, terutama karena perhatian dari Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdlor. Habib Muhammad merasakan berkah dari pandangan dan do’a-do’a Habib Muhammad al-Muhdlor di dalam majelis rouhah (pengajian)-nya. Habib Muhammad sangatlah rajin menghadirinya dan telah membaca beberapa kitab di hadapan beliau, juga bernasyid Rosyafaat gubahan Habib Abdurrohman bin Abdulloh Bilfaqih bersama as-Saiyid Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Yahya. Habib Muhammad al-Muhdlor sangat menyayangi beliau dan seringkali mendo’akannya. Ketika itulah Habib Muhammad merasa telah mendapatkan futuh, manfaat dan juga barakah dari menuntut ilmu. Habib Muhammad semakin haus dengan ilmu pelajaran di Madrasah Al-Khoiriyah. Di tengah masa belajar itu beliau seringkali menggantikan para gurunya mengajar, bilamana mereka berudzur datang. Sampai akhirnya nasib baik itu datang padanya setelah menempuh pendidikan hampir enam tahun lamanya. Pada akhir tahun pendidikan, para pelajar yang lulus menerima ijazah kelulusan. Ijazah itu dibagikan langsung oleh Habib Muhammad al-Muhdlor. Ternyata Habib Muhammad menempati peringkat pertama, dari seluruh pelajar yang lulus waktu itu. Bersamaan dengan itu, Habib Muhammad al-Muhdlor menghadiahkan sebuah jam kantong merk Sima kepadanya. Kebahagiaan semakin bertambah ketika Habib Muhammad al-Muhdlor mengusap-usap kepala dan dadanya sambil terus mendo’akannya. Dalam waktu bersamaan, Habib Agil bin Ahmad bin Agil (pengurus madrasah) memberitahukan bahwa Habib Muhammad pada tahun itu akan diangkat menjadi guru di Madrasah Al-Khoiriyah, tempatnya belajar selama ini. Disamping mengajar pagi dan sore di Madrasah Al-Khoiriyah, Habib Muhammad juga banyak memberikan ceramah agama di berbagai tempat. Ia juga rajin menerjemahkan ceramah-ceramah para mubaligh Islam yang datang dari luar negeri, seperti Syeikh Abdul Alim ash-Shiddiqi dari India, dsb. Pada tahun 1348 h, tepatnya Kamis sore 22 Robi’utsani, ayahanda beliau menikahkannya dengan Syarifah Aisyah binti Saiyid Husein bin Muhammad Bilfaqih. Bertindak sebagai wali nikah adalah saudara kandung istrinya, Saiyid Syeikh bin Husein Bilfaqih yang telah mewakilkan aqd kepada Qodli Arab di Surabaya masa itu, yaitu Habib Ahmad bin Hasan bin Smith. Walimatul ursy di rumah istrinya, Nyamplungan Gg IV Surabaya. Dalam pernikahan ini Allah SWT telah mengaruniainya enam putra dan delapan putri. Mereka adalah Syifa’, Muznah, Ali, Khodijah, Sidah, Hasyim, Fathimah, Abdulloh, Abdurrohman, Alwi, Maryam, Alwiyah, Nur dan Ibrohim. Pindah ke Malang Pada bulan Jumadil Akhir 1359 H, bertepatan dengan Juli 1940, Habib Muhammad beserta keluarganya pindah ke Lawang, Malang. Di kota kecamatan inilah beliau mendirikan madrasah dan pondok pesantren Darun Nasyiien, yang pembukaan resminya jatuh pada bulan Rojab 1359 H, bertepatan dengan 5 Agustus 1940. Pembukaan pondok pertama kali itupun mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat dan ulama tanah Jawa. Bahkan sebagian sengaja datang dari luar Jawa. Beberapa bulan setelah tinggal di Lawang, ayahanda dari Surabaya (Habib Husein) turut pindah ke Lawang dan tinggal bersamanya. Ketika penjajah Jepang datang, Habib Muhammad sempat berpindah-pindah tinggal. Mulai dari Karangploso, Simping, hingga Bambangan, yang kesemuanya masih di sekitar Lawang. Kegiatan mengajarnya juga sempat berhenti sekitar 17 hari, karena Jepang pada waktu itu memerintahkan untuk menutup seluruh madrasah dan sekolah di seluruh daerah jajahannya. Ketika Belanda datang kembali untuk menjajah yang kedua kalinya, terpaksa madrasah ditutup lagi selama tiga bulan, mengingat keamanan yang dirasa membahayakan pada waktu itu. Barulah sejak 1 April 1951, Habib Muhammad sekeluarga kembali ke Jl. Pandowo sampai akhir hayatnya. Tepatnya di rumah nomor 20, yang di belakangnya terdapat pondok pesantren, beserta kamar-kamar santri, musholla Baitur Rohmah dan ruang-ruang kelas yang cukup baik. Saat itu yang dipercaya sebagai panitia pembangunan sekaligus arsitekturnya adalah putra sulung beliau, Habib Ali bin Muhammad Ba’abud. Habib Muhammad berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu pukul 10.20 tanggal 18 Dzulhijjah 1413 h, bertepatan dengan 9 Juni 1993. Jenazah almarhum diantar oleh banyak orang ke pemakaman Bambangan, Lawang. Lalu dimakamkan di samping makam ayahanda dan kakak beliau. Rohimahullohu rohmatal abror. Wa askannahul jannata darul qoror. Tajri min tahtihal anhar. Aamiin ya Allohu ya Ghofuru ya Ghoffar. Wasiat yang Ditinggalkan Habib Muhammad Ada beberapa wasiat yang ditinggalkan oleh Habib Muhammad yang layak direnungkan oleh umat Islam dimanapun. Diantara wasiatnya itu adalah, 1. Hendaklah mereka menjalankan sunnah-sunnah atau prilaku pemimpin para utusan Allah, Saiyidina Muhammad SAW, dan hendaknya pula mengikuti sunnah dan perjalanan para Khalifah yang telah mendapatkan petunjuk (al-Khulafaur Rosyidin). Barangsiapa yang tidak mampu menjalankan kesemuanya itu, setidak-tidaknya janganlah keluar atau menyimpang dari jalan atau petunjuk para Salafus Sholih, yaitu para leluhur kita yang sholeh serta terbukti kewaliannya. Dan barangsiapa belum mendapat jua taufiq hidayat untuk itu semua, paling tidak hendaknya ia meneladani kepadaku, yaitu meneladani dalam hal ibadahku dan khalwatku, juga di dalam menjauhkan diri dari kebanyakan orang, bersama dengan perlakuanku yang baik terhadap anak kecil dan orang besar laki-laki dan perempuan, jauh maupun dekat, tanpa harus sering berkumpul atau banyak bergaul, dan tanpa harus saling tidak peduli ataupun saling benci-membenci. 2. Hendaknya pula sangat berhati-hati dalam bermusuhan dan berselisih dengan siapa saja, di dalam apa saja dan bagaimanapun juga. 3. Selalu memohon pada Allah kasih sayangnya atau diriku serta memohonkan ampun untukku dengan membacakan istighfar sesuai dengan kesanggupannya masing-masing pada setiap waktu, lebih-lebih lagi di dalam hari-hari Asyura, Rajab dan di bulan Ramadlan, Haji, terutama pada bulan dimana Allah SWT mentakdirkan akan wafatku. 4. Mempererat tali silaturahmi, karena sesungguhnya silaturahmi itu sangat memberi pengaruh terhadap keberkahan rizqi dan salah satu sebab dipanjangkannya umur seseorang. Silaturohmi itu menunjukkan keluhuran budi pekerti dan tanda seseorang mendapat kebajikan di hari kemudian. Maka hati-hatilah kalian daripada memutuskan tali persaudaraan , karena perbuatan itu sangatlah keji dan siksanya sangatlah pedih. Seseorang yang memutuskan silaturohmi itu adalah terkutuk, sesuai nash al-Quran dan menandakan orang yang lemah imannya, orang yang memutus silaturahmi tidak akan mencium bau sorga dan kesialannya menjalar pada tetangga-tetangganya. Maka sambunglah tali persaudaraan, karena sesungguhnya tali rohim itu tergantung pada salah satu tiangnya Arsy Allah SWT. 5. Agar banyak beristikharah dan musyawarah dalam segala hal, dan hendaknya selalu mengambil jalan yang hati-hati. Walaupun pada hakekatnya berhati-hati itu tidak dapat meloloskan seseorang dari ketentuan dan takdir Allah, akan tetapi menjalankan sebab tidaklah boleh ditinggalkan. Justru dengan sebab itulah wasiat atau pesan dan nasehat itu dibutuhkan dan dianjurkan, karena kesemuanya itu adalah satu daripada sebab dalam mengajak manusia kepada Allah serta mengajak mereka menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Semoga Allah SWT mencurahkan kasih sayangnya atas mereka yang suka memberikan nasehat dan membalas mereka dengan kebaikan yang melimpah, dan semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya pada kita.sumber ( http://www.almihrab.com)

KH.SOERATMO (MBA IDRIS)

Kyai Soeratmo atau yang lebih dikenal dengan Mbah Idris, dilahirkan pada tanggal 1 april 1913 M, putra KH. Amir Hasan Yogyakarta dan Ny. Aisyah binti KH. Idris Boyolali. Beliau wafat pada hari rabu pon tanggal 26 Jumadil Akhir 1423 H/4 September 2002 M. II. Pendidikan dan Pergaulan Semenjak kecil beliau sudah tekun dalam menuntut ilmu. Beliau belajar di Manbaul Ulum Slompretan sampai tamat kelas XI dengan nilai yang sangat memuaskan. Selain itu beliau juga pernah belajar dibeberapa Pondok Pesantren, antara lain : 1. Pondok Pesantren Jamsarem, Solo dibawah asuhan KH. Idris. 2. Pondok Pesantren Tremas Pacitan 1941 -1944 M. 3. Pondok Pesantren Bangkalan Madura. 4. Pondok Pesantren Kaliwungu Kendal. 5. Mengikuti Majlis Ta’lim dibawah asuhan Habib Muhsin Bin Abdullah, Solo untuk mempelajari Hadits Bukhori Muslim. Selain itu beliau juga telah terbiasa dengan riyadloh seperti Puasa sunah, Sholat lail dan tahan tidak tidur dimalam hari. Beliau juga menekuni olah raga seni Pencak Silat dan bergabung dalam Pendekar solo. Tidak ketinggalan beliau juga mendalami ilmu tasawuf. Maka dengan tempa’an-tempa’an tersebut terbentuklah sosok pribadi Kyai Soeratmo/ KH. M. Idris menjadi ulama’ khas yang berwawasan luas dan menghabiskan hidupnya untuk mencari ridlo Allah Swt. Sejak muda beliau sangat senang bergaul dengan siapapun tanpa mengenal status sosial maupun agama dan golongan. Cara berbusana selalu menampilkan kerapian sesuai dengan situasi dan kondisi pergaulannya. Beliau sangat ta’dhim kepada sesepuh, Alim Ulama’ dan Habaib. Beliau sangat peduli terhadap fakir miskin, dan sayang kepada anak kecil. Beliau mendalami dan Bai’at Thoriqoh Szadziliyyah sejak muda kepada beberapa mursyid/Guru Thoriqoh, antara lain : 1. KH. Abdul Mu’id Tempur Sari – Klaten. 2. KH. Ahmad Siroj Keprabon – Solo. 3. KH. Abdul Rozaq Termas Pacitan. 4. KH. Ahmad Ngadirejo. 5. KH. M. Idris Jamasaren – Solo. 6. Bertemu langsung dengan Syeikh Mufthi Kamal di Makkatul Mukaromah dan syeikh Muhtarom Makkah. Semenjak beliau menjadi Mursyid, telah puluhan ribu jumlah anggota yang diasuh, terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat. Bahkan beberapa bulan sebelum beliau wafat, beliau masih sempat memba’aiat sekitar 200 orang sambil tiduran karena sudah udzur atau sakit, dan dilakukan bersama atau dijama’. III. Kebiasaan Beliau Beliau sangat rajin mempelajari kitab-kitab, kemudian merangkum dan menuliskannya kembali dalam bentuk kitab/buku dengan ditulis tangan sendiri secara rajin, dengan sistematis dan penafsiran / terjemahan yang mudah dipahami oleh siapapun yang membaca. Kebiasaan ini telah dilakukan semenjak beliau belajar di Pondok Pesantren tremas Pacitan, sampai menjelang wafatnya. Adapun kitab-kitab yang beliau himpun antara lain : 1. Kitab Nikah. 2. Kitab Asyhuril Hurum. 3. Do’a-do’a di dalam sholat dan diluar sholat. 4. Kitab Tanbihul Awwam Jilid I dan II. 5. Kitab tentang tata krama masuk Thoriqoh Syadziliyyah. 6. Kitab Manaqib Syeikh Ali Abil Hasan Assyadzili Ra. Dll. IV. Perjuangan dan Dakwah Beliau. 1. Beliau termasuk pejuang 45, pada saat pertempuran menghadapi pasukan penjajah Belanda di Mranggen, beliau bergabung dalam barisan Hizbullah. 2. Dalam berdakwah beliau lakukan dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Contoh-contoh pengalaman syariat agama dilaksanakan secara sederhana, tidak selalu harus memaparkan dalil-dalil, namun mengutamakan tata krama dan akhlakul karomah. 3. Beliau sangat peduli terhadap pelestarian budaya Jawa yang relevan dengan ajaran Islam, misalnya, wayang kulit, tata busana jawa dll. Beliau sangat fasih apabila menuturkan Babat tanah Jawa yang penuh dengan nilai filsafahnya. 4. Beliau termasuk ulama Ahli falak. Namun hal ini sanagat disimpan rapi, alasannya sangat sederhana “jangan sampai diartikan atau dianggap sebagai ahli nujum. V.Karomah-karomahnya Karena sifat kehati-hatian beliau, maka beliau sangat rapat dalam menyimpan rahasia kekhususan yang dimiliki. Adapun kejadian-kejadian yang merupakan karomah yang diungkap disini adalah sebagian kecil yang sempat direkam semasa beliau masih hidup. 1. Beliau sangat menghormati tamu, pernah suatu ketika beliau kedatangan tiga orang tamu dari jauh. Pada saat itu ibu nyai dan pembantu tidak ada dirumah. Tiga tamu tadi dihidangkan minuman yang diambil dalam teko persediaan beliau sendiri. Anehnya dalam satu teko yang biasanya berisi teh, ketika dituangkan digelas para tamu tersebut isinya berbeda-beda sesuai dengan kesukaan tamu tersebut. Satu gelas pada saat dituangkan berisi kopi, satu berisi teh dan satunya lagi berisi susu. Hal ini membuat ketiga tamu tadi tertegun sambil berbisik :”Mengapa Kyai sudah tahu minuman kesukaan kami padahal kami belum pernah silaturahmi dan ketemu kyai, dan kami saat ini memang betul-betul haus”. 2. Beliau melaksanakan ibadah haji baru tiga kali. Namun kenyataan tiap tahun banyak saudara yang pergi haji berjumpa beliau baik di Makkah dan Madinah.

KH.SOERATMO (MBA IDRIS)

KH.SOERATMO (MBA IDRIS)

Hal ini pernah dialami oleh KH. Ahmad Zakasy, KH. Abu Shihab, KH. Taubatan Nasuha. Ketika mereka bertiga yang tergolong sudah sepuh melaksanakan ibadah haji, ketiganya disana di pandu oleh KH. Soeratmo/Mbah Idris. Maka setelah ketiganya pulang tersebarlah berita tersebut. Dan mereka menuturkan Kyai Soeratmo atau mbah Idris setiap paginya sudah di Makkah, tetapi setiap sore slalu pamit untuk pulang. Dengan berita tersebut, para jama’ah majlis ta’lim asuhan beliau merasa heran dan dalam hati membantah berita tersebut, karena selama musim haji beliau setiap malamnya selalu aktif memberikan ceramah tafsir al Qur’an di Gedung Batik PBB Kacangan. Akhirnya kami percaya setelah KH. Ahmad Zarkasy sambil berliangan air mata membenarkan berita tersebut. Peristiwa seperti itu ternyata banyak dikisahkan oleh beberapa orang yang pergi haji, meskipun Mbah Idris sudah wafat. 3. Pada saat pertama kali Mbah Idris mengadakan haul Imam Agung Syekh Syadzili Ra/sewelasan pada tahun 1971 di Masjid Muqorrobbin yang baru saja didirikan. Pada saat itu musim paceklik, masyarakat banyak mengalami kesusahan sulit mencari makan, tanaman pangan dihabiskan oleh tikus. Panitia sangat cemas, karena sampai menjelang maghrib makanan yang tersedia sangat sedikit. Kemudian Mbah Idris memberi nasehat, “Jangan cemas, Apabila kita Mahabbah dengan kekasih Allah, Insya Allah diberkahi. Maka mohonlah keberkahan. Kenyataannya memang benar, setelah acara dzikir selesai dibaca kami mulai menghidangkan makanan yang ada sampai merata, padahal yang hadir ribuan. Setelah pengajian selesai panitia sangat heran karena makanan yang tersedia sejak sore masih utuh. Alhamdulilah akhirnya dapat diberikan kepada pekerja yang ada.

sumber: http://www.almihrab.com

ULAMA ULAMA NUSANTARA

KH.HASYIM ASY’ARI (TEBUIRENG JOMBANG)

KH.HASYIM ASYARI

KH.IDRIS KAMALI (TEBUIRENG JOMBANG)

KH.IDRIS KAMALI

kh.bisri syansuri dan Kh Abdul wahab chasbulloh(jawa timur)

kh.bisri syansuri

Kh.Adlan aly ( Jombang Jawa timur)

kh.Ali maksum

kh.Ali Maksum

KH.MUHAMMAD THOWIL ( PON-PES ASSALAMIYAH BANTEN)

KH MUHAMAD TOWIL

KH.ABDULLAH ABBAS (BUNTET CIREBON)

KH.ABDULLAH ABBAS

KH.ISHOMUDDIN HADZIK(PON-PES TEBUIRENG)

KH.ISHOMUDDIN HADZIK (GUS ISHOM)

KH.ABDULLAH SYAFEI(JAKARTA)

KH.ABDULLOH SYAFEI

KH.CHOLIL BISRI (REMBANG JAWA TENGAH)

KH.CHOLIL BISRI

KH.MAMOEN ZUBAIR (TENGAH)

KH.MAMOEN ZUBAIR (TENGAH)

KH.FUAD HASYIM

KH.FUAD HASYIM

TRIO KYAI BUNTET CIREBON

TRIO KYAI BUNTET CIREBON

KH.Munasir

KH.USMAN ABIDIN (JAKARTA)

KH.USMAN ABIDIN

HABIB LUTHFI BIN YAHYA (KETUA THAREKAT NAQSABANDIYYAH) DAN KH.USMAN ABIDIN

HABIB LUTHFI BIN YAHYA DAN KH.USMAN ABIDIN

SYECH MUHAMMAD ABDUL MALIK BIN ILYAS ( KEBUMEN JATENG)

SYECH MUHAMMAD ABDUL MALIK

KH.ABDUL HAMID (PASURUAN)

KH.ABDUL HAMID

KH. ASNAWI (CARINGIN BANTEN)

KH.ASNAWI (CARINGIN BANTEN)

KH.SAID BIN KH ARMIA (TEGAL)

KH.SAID BIN KH ARMIA (TEGAL JAWA TENGAH)

KH.AHMAD SIDDIQ

KH.AHMAD SIDIQ

Syech Yusuf Al makassary ( makasar sulawesi)

syeck Yusuf Al makassary

Syech Nawawi Al Bantani( tanara banten)

SYECK NAWAWI AL BANTANI (GURU KYIAI INDONESIA)

KH.MUHAMMAD NAWAWI AL BANTANI (TANARA BANTEN)

khmuahmmad-nawawi-albantanijpg.jpg

KH.NOER ALI ( UJUNG HARAPAN BEKASI)

KH.NOER ALI (BEKASI)

KH.ACHMAD DJAZULI USMAN (KEDIRI JAWA TIMUR)

KH.ACHMAD DJAZULI USMAN

KH.HAMIM DJAZULI ( GUS MIEK KEDIRI)

KH.HAMIM DJAZULI (GUS MIEK)

KH.MAKSUM DJAUHARI (LIRBOYO JAWA TIMUR)

KH.MA’SUM JAUHARI

KH.SYAFI’I HADZAMI ( JAKARTA)

KH.SYAFI’I HADZAMI

KH.SYAFI’I HADZAMI ( KANAN)

KH.ILYAS RUCHIYAT ( JAWA BARAT)

KH.ILYAS RUCHIYAT

KH.YUSUF HASYIM (TEBUIRENG JOMBANG)

KH.YUSUF HASYIM

KH.ABDUL ROSYID SYAFI’I ( PIMPINAN ASSYAFI’IYAH JAKARTA)

KH.ABDUL ROSYID SYAFI’I

KH.MUSLIM RIFA’I IMAMPURO( PON-PES ALMUTTAQIEN KLATEN)

KH.MUSLIM RIFA’I IMAMPURO (MBAH LIM KYAI NYENTRIK)

KH.SONHAJI ( KEBUMEN JAWA TENGAH)

KH.SONHAJI KEBUMEN

KH.ABDULLAH FAQIH (KIRI) { TUBAN JAWA TIMUR}

KH.ABDULLAH FAQIH (SEBELAH KIRI)

KH.HASYIM MUZADI DAN DR YUSUF QORDOWI

KH.HASYIM MUZADI DAN DR YUSUF QORDOWI

KH.DIMYATI ROIS (KENDAL JAWA TENGAH)

 

 

 

 

 

KH.PROF.ANWAR MUSADDAD ( GARUT JAWA BARAT)

KH.PROF.ANWAR MUSADDAD

KH.YAHYA (BANDUNG)

KH.YAHYA (BUYA YAHYA)

TUAN GURU HAJI TURMUDJI BADRUDIN (LOMBOK NTB)

TUAN GURU HAJI TURMUDJI BADRUDDIN

KH.MUKHTAR SYAFAAT (BANYUWANGI)

KH.MUKHTAR SYAFA’AT

Syeck arsyad al banjari

KH MUHAMMAD DIMYATI (CIDAHU BANTEN)

KH.MUHAMMAD KHOLIL ( MADURA)

khm-kholil-madura

ULAMA ULAMA NU

Syech Yasin Al Padani dan para Ulama

Syech Yasin Al Padani ( padang )

Kh.Mubarok bin Nuh ( Suryalayah Jawa barat)

KH.A Shohibul Wafa ( abah Anom suryalaya jawa barat)

KH .ABDULLOH BIN NUH ( BOGOR)

KH. M ARAWANI ( JAWA TENGAH)

SYECK SULAIMAN ARRASULI ( MINANGKABAU)

SYECH AHMAD KHATIB SAMBAS (KALIMANTAN)

Kh Muhammad Zainuddin Abdul Majid ( Lombok

KH.RADEN MUHAMMAD AMIN ( KALI BATA JAKARTA)

KH RADEN MUHAMMAD AMIN (GURU AMIN KALI BATA)

KH.BUSTHOMI ( BANTEN)

kh-busthomi-banten

KH. SANJA ( ULAMA AHLI NAHWU SHOROF BANTEN)

kh-sanja-banten

KH.MAMA OBAY ( KARAWANG JAWA BARAT)

kh-mama-obay-karawang

KH.ARSYUDIN ( TENJO BOGOR)

kh-arsyudin-tenjo-bogor

SYECH TUBAGUS AHMAD BAKRI ( PURWAKARTA )

syech-tubagus-ahmad-bakri-purwakarta

KH.MUHAMMAD DIMYATI ( CIDAHU BANTEN)

abah-dimyati

kh-dimyati-cidahu-pandeglang

KH.HAMIM DZAJULI/GUS MIK ( KEDIRI JAWA TIMUR)

GUS MIK

Kh.maksum/Gus maksum ( jawa timur)

kh, Maksum jauhari

Kh.Muhiddin ( cirebon)

kh.muhiddin kuningan cirebon

Syech Muhammad abdul malik ( Kebumen)

Syech Muhammad abdul malik

PHOTO-PHOTO HABAIB

Alam bersinar-sinar bersuka ria

Menyambut kelahiran al-Musthafa Ahmad

Riang gembira meliputi penghuninya

Sambung-menyambung tiada henti

Berbahagialah wahai pengikut al-Quran

Burung-burung kemujuran kini berkicau

Bersuluhan dengan sinar keindahan

Mengungguli semua yang indah tiada banding

Kini wajiblah kita bersuka cita

Dengan keberuntungan terus-menerus tiada habisnya

Manakala kita memperoleh anugerah

Padanya terpadu kebanggaan abadi

Bagi Tuhanku segala puji

Tiada bilangan mampu mencukupinya

Atas penghormatan yang dilimpahkan-Nya bagi kita dengan lahirnya al-Musthafa al Haadi Muhammad

Yaa Rasulullah, selamat datang

Sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu

Semoga Engkau berkenan memberi nikmat karunia-Mu,

Mengantarkan kami ke tujuan idaman

Tunjukilah kami jalan yang ia tempuh

Agar dengannya kami bahagia dan memperoleh kebaikan yang melimpah

Tuhanku, demi mulia kedudukannya di sisi-Mu

Tempatkanlah kami sebaik-baiknya di sisinya.

Semoga shalawat Allah meliputi selalu,

Rasul paling mulia, Muhammad

Dan salam terus-menerus

Silih berganti setiap saat

HABIB ALI BUNGUR JAKARTA DAN PARA HABAIB

PARA HABAIB DAN HABIB ALI BUNGUR JAKARTA

ALHAFIDZ ALHABIB ABDULLOH BIN ABDUL QODIR BIL FAQIH( MALANG )

AL HAFIDZ ALHABIB ABDULLOH BIN ABDUL QODIR BIL FAQIH

HABIB ABDURRAHMAN BIN AHMAD ASSEGAF(JAKARTA)

AL WALID ALHABIB ABDUROHMAN ASSEGAF

HABIB ABDURRAHMAN ASSEGAF DAN HABIB ABDULLOH BILFAQIH

HABIB ABDULLOH BIL FAQIH

ALHABR HABIB ABDUL QODIR BIL FAQIH(TENGAH)

BELIAU ADA DITENGAH, SEBELAH KIRI ANAK BELIAU HABIB ABDULLOH BIL FAQIH

HABIB MUHAMMAD BIN HUSEIN BA’BUD (MALANG)

HABIB MUHAMMAD BIN HUSEIN BA’BUD

HABIB HUSEIN BIN ABDULLOH ALATHOS (EMPANG BOGOR KIRI)

HABIB HUSEIN BIN ABDULLOH BIN MUHSIN AL ATHOS( KIRI)

ALLAMAH HABIB ALWI ALMALIKI (MEKKAH)

AL’ALAMAH HABIB ALWI AL MALIKI

HABIB JA’FAR ASSEGAF (JAWA TIMUR)

HABIB JA’FAR ASSEGAF

HABIB MUHAMMAD BIN SALIM

Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdullah bin Abu Bakar bin ‘Aydrus

Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Saqqaf

Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Saqqaf

HABBIB ABDUL QODIR ASSEGAF

ALHABIB ABDUL QODIR ASSEGAF

HABIB ALWI BIN THOHIR AL HADAD (MALAYSIA)

HABIBALWI BIN THOHIR AL HADAD
HABIB SALIM BIN ZINDAN( JAKARTA)

HABIB SALIM BIN ZINDAN

HABIB AH MAD BIN ABDULLOH AL ATHOS ( BENDUNGAN HILIR)

HABIB AHMAD BIN ABDULLOH AL ATHOS

HABIB SYECH ALWI ALMALIKI

HABIB ALI BIN MUHAMMAD AL HABSYI (SHOHIB GHURFAH)

HABIB ALI BIN MUHAMMAD AL HABSYI

HABIB SALIM BIN HAFIDZ

HABIB SALIM BIN HAFIDZ

HABIB ALI AL HABSYI (KWITANG)

HABIB ALI AL HABSYI (KWITANG )

HABIB ALI AL HABSYI KWITANG & HABIB ALI BUNGUR

habib ali alhabsy kwitang dan habib ali bungur

HABIB ABDUL QODIR BIN HUSEIN ASSYEGAF

HABIB ABDUL QODIR BIN HUSEIN ASSEGAF

HABIB ABDULLOH BIN ALWI AL ATHOS

HABIB ABDULLOH BIN ALWI AL ATHOS

HABIB ABU BAKAR BIN AIDRUS AL IDRUS

HABIB ABU BAKAR BIN AIDRUS AL IDRUS

HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF( GRESIK)

HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF

HABIB ALWI BIN MUHAMMAD BIN AHMAD AL MUHDHOR

HABIB ALWI BIN MUHAMMAD BIN AHMAD AL MUHDHOR

HABIB UMAR BIN HUD AL ATHOS( CIPAYUNG BOGOR)

HABIB UMAR BIN HUD AL ATHOS

HABIB ABDULLOH SYAMI AL ATHOS JAKARTA (kanan) DAN HABIB MUHAMMAD BIN ALI AL HABSY KWITANG JAKRTA ( KIRI)

HABIB ABDULLOH SYAMI AL ATHOS (

HABIB ZEIN BIN SMITH

HABIB ZEIN BIN SMITH

HABIB MUHAMMAD AL MUHDHOR

HABIB MUHAMMAD AL MUHDHOR

HABIB AHMAD BIN ALWI AL HADAD(HABIB KUNCUNG JAKARTA)

HABIB AHMAD BIN ALWI AL HADAD

HABIB USMAN BIN YAHYA ( JAKARTA)

Habib Sholeh bin Muhsin al Hamid ( tannggul jawa timur

HABIB SHOLEH TANGGUL DAN PARA HABAIB

HABIB AHMAD BIN HAMID AL KAFF ( PALEMBANG)

Habib Ahmad Masyhur bin Toha Al hadad

Habib Ja’far bin Ahmad alidrus

HABIB ALWI BIN MUHAMMAD AL HADAD (BOGOR)

HABIB HUSEN BIN HADI AL HAMID ( JAWA TIMUR)

TRIO HABIB BETAWI (HABIB ALI BUNGUR, HABIB ALI ALHABSYI KWITANG& HABIB SALIM ZINDAN

Habib Alwi bin Ali Al habsyi ( Solo)

Habib husein bin hadi , habib sholeh tanggul dan habib Umar bin Hud

habib-hafiz-bin-abdullah

HABIB HAFIDH BIN ABDULLOH BIN SYECK ABI BAKAR SALIM

HABIB SALIM BIN HAFIDH

habib-salim-bin-hafiz

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 5

MUKZIJAT NABI MUHAMMAD SAW

Pohon-pohon mendatangi seruannya dengan ketundukkan
Berjalan dengan batangnya dengan lurus dan sopan

Seakan batangnya torehkan sebuah tulisan
Tulisan yang indah di tengah-tengah jalan

Seperti juga awan gemawan yang mengikuti Nabi
Berjalan melindunginya dari sengatan panas siang hari

Aku bersumpah demi Allah pencipta rembulan
Sungguh hati Nabi bagai bulan dalam keterbelahan

Gua Tsur penuh kebaikan dan kemuliaan. Sebab Nabi
dan Abu Bakar di dalamnya, kaum kafir tak lihat mereka

Nabi dan Abu Bakar Shiddiq aman didalamnya tak cedera
Kaum kafir mengatakan tak seorang pun didalam gua

Mereka mengira merpati takkan berputar diatasnya
Dan laba laba takkan buat sarang jika Nabi didalamnya

Perlindungan Allah tak memerlukan berlapis baju besi
Juga tidak memerlukan benteng yang kokoh dan tinggi

Tiada satu pun menyakiti diriku, lalu kumohon bantuan Nabi
Niscaya kudapat pertolongannya tanpa sedikit pun disakiti

Tidaklah kucari kekayaan dunia akhirat dari kemurahannya
Melainkan kuperoleh sebaikbaik pemberiannya

Janganlah kau pungkiri wahyu yang diraihnya lewat mimpi
Karena hatinya tetap terjaga meski dua matanya tidur terlena

Demikian itu tatkala sampai masa kenabiannya
Karenanya tidaklah diingkari masa mengalami mimpinya

Maha suci Allah, wahyu tidaklah bisa dicari
Dan tidaklah seorang Nabi dalam berita gaibnya dicurigai

Kerap sentuhannya sembuhkan penyakit
Dan lepaskan orang yang berhajat dari temali kegilaan

Doanya menyuburkan tahun kekeringan dan kelaparan
Bagai titik putih di masa-masa hitam kelam

Dengan awan yang curahkan hujan berlimpah
Atau kau kira itu air yang mengalir dari laut atau lembah

sachrony-cocc.gif

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 4

KELAHIRAN SANG NABI MUHAMMAD SAW

Kelahiran Sang Nabi menunjukkan kesucian dirinya
Alangkah eloknya permulaan dan penghabisannya

Lahir saat bangsa Persia berfirasat dan merasa
Peringatan akan datangnya bencana dan angkara murka

Dimalam gulita singgasana kaisar Persia hancur terbelah
Sebagaimana kesatuan para sahabat kaisar yang terpecah

Karena kesedihan yang sangat, api sesembahan padam
Sungai Eufrat pun tak mengalir dari duka yang dalam

Penduduk negeri sawah bersedih saat kering danaunya
Pengambil air kembali dengan kecewa ketika dahaga

Seakan sejuknya air terdapat dalam jilatan api
Seakan panasnya api terdapat dalam air, karena sedih tak terperi

Para jin berteriak sedang cahaya terang memancar
Kebenaran pun tampak dari makna kitab suci maupun terujar

Mereka buta dan tuli hingga kabar gembira tak didengarkan
Datangnya peringatan pun tak mereka hiraukan

Setelah para dukun memberi tahu mereka
Agama mereka yang sesat takkan bertahan lama

Setelah mereka saksikan kilatan api yang jatuh dilangit
Seiring dengan runtuhnya semua berhala dimuka bumi

Hingga lenyap dan pintu langitNya
Satu demi satu syetan lari tunggang langgang tak berdaya

Mereka berlarian laksana lasykar Raja Abrahah
Atau bak pasukan yang dihujani kerikil oleh tangan Rasul

Batu yang Nabi lempar sesudah bertasbih digenggamannya
Bagaikan terlemparnya Nabi Yunus dan perut ikan paus.