Monthly Archives: Maret 2008

GEMERLAP PERINGATAN MAULID MAJELIS NURUL MUSTHOFA DI KALIBATA

Perayaan Maulid Agung Rosululloh Saw yang diselenggarakan oleh Majelis Nurul Musthofa di kalibata 19 maret yang lalu , adalah fenomenal , Perayaan Maulid tersebut lain dari biasanya Kedatangan Habib Hasan bin Ja’far Assegaf selaku Pimpinan Majelis Nurul Musthofa beserta rombongan disambut dengan Riuh kembang api menerangi Langit Kalibata layaknya perayaan Tahun Baru . Gemuruh sholawat yang disenandungkan para Jama’ah membuat suasana begitu meriah seperti menyambut Lahirnya Rosululloh SAW.

SUASANA PERINGATAN MAULID NABI SAW

SUASANA MAULID DI KALIBATA

Acara langsung dimulai dengan pembacaan Maulid Shimtut Duror yang dipimpin langsung oleh Habib Hasan bin Ja’far Assegaf, begitu tiba waktu Mahalul Qiyam Riuh dentuman kembang api kembali bergema menerangi angkasa meyambut kelahiran Sang Nabi Agung Muhammad Saw. Begitu hanyut para jama’ah dalam sausana yang riuh yang dihadiri oleh ribuan Jamah dari berbagai Wilayah di Jabotabek, baik yang muda maupun yang tua baik yang alim maupun yang awam baik pria maupun Wanita semua larut dalam Suka cita Menyambut Kelahiran Manusia Agung Rosululloh Saw. Perayaan Maulid kali ini terasa Istimewa dengan Hadirnya seorang Ulama dari Malang Jawa timur Habib Abdurrahman Bin Abdulloh Bil faqih, beliau adalah Putra dari Seorang Wali qhutub Al ‘alamah al quthub Habib Abdulloh bil Faqih Pimpinan Pondok Pesantren Darul Hadist Al Faqihiyyah

maulid.jpg

Pembicara pertama pada Perayaan Maulid di sampaikan Oleh Habib Abdurrahman bil Faqih terasa begitu menggetarkan hati para jama’ah, Nada bahasa yang terkadang pelan dan keras tak sedikit membuat jamaah terenyuh hatinya apalagi materi yang disampaikan menyangkut kehidupan Rosululloh Saw sebagai “Cahaya Manusia Pilihan” ( Nurul Mustofa) menambah kerinduan untuk berjumpa dengan Rosululloh SAW.

Acara dilanjutkan dengan Penceramah kedua yang disampaikan oleh Kh. Abdur rosyid Syafi’i dan ditutup dengan do’a serta dilanjutkan dengan berziarak kemakam Habib Ahmad bin Alwi Al hadadd ( Habib Kuncung) yang memang tak jauh dari tempat berlangsungnya peringatan Maulid.

Sungguh pengalaman yang menurut saya luar biasa yang baru pertama kali mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Nurul Musthofa begitu semarak dan meriah semoga kita semua mendapat syafa’at dari Rosululloh Saw karena cinta dan suka citanya merayakan kelahiran beliau.Amin

HADIRILAH….MAULID AGUNG ROSULULLOH SAW

KH.MOENAWIR (AHLI QURAN PENDIRI PON-PES KRAPYAK JOGJAKARTA)

Siapa yang tak kenal dengan pondok pesantren Munawir Krapyak Jogjakarta yang telah banyak melahirkan ulama-ulama ahli quran terkemuka. Semula pesantren yang didirikan sekitar tahun 1909 oleh kh Moenawir hanya dihuni 10 santri , kini pesantren krapyak berkembang pesat dengan jumlah santri yang mencapai ratusan. Sosok Kh Moenawir atau yang akrab dipanggil Mbah Moenawir merupakan sosok ulama yang oleh Rosululloh saw disebut Sebagai “Keluarga Alloh” atau “waliyulloh”, karena kemampuannya sebagai ahlul qur’an ( penghapal qur’an dan mengamalkan kandungan alqur’an)

Para Ulama peserta Mukta’mar Di Pon-pes Munawir Krapyak Jogja 

peserta muktamar NU DI PONPES MUNAWIR KRAPYAK JOGJAKARTA

Sejak usia 10 tahun Kh Moenawir telah Hapal Quran 30 Juz dan Beliau gemar sekali menghatamkan alquran , beliau dikirim ayahnya KH.Abdul Rosyad untuk belajar kepada seorang Ulama terkemuka di Bangkalan Madura KH.Muhammad Kholil , Bakat kepasihan Mbah Moenawir dalam Pembacaan Alquran memberikan kesan tersendiri dihati Gurunya (Kh.Muhammad Kholil ) dan suatu ketika gurunya menyuruh Kh Moenawir untuk menjadi imam Sholat sedangkan Gurunya Kh Kholil menjadi Mak’mum.

Tahun 1888 Kh Moenawir bermukim di Mekkah dan memperdalam ilmu-ilmu Alquran kurang lebih 20 tahun, kesempatan tersebut Beliau gunakan untuk mempelajari Ilmu Tahfizul quran , qira’at sab’ah dengan Ulama -ulama setempat. Hingga Kh Moenawir memperoleh Ijazah Sanad Qira’at yang bersambung ke urutan 35 sampai ke Rosululloh SAW dari Seorang Ulama Mekkah yang termashur Syech Abdul Karim bin Umar Al Badri Addimyati .

KhMoenawir Mampu menghatamkan Alquran hanya dalam Satu rakaat sholat, dan sebagai orang awan mungkin itu Mustahil dilakukan tapi bagi Kh Moenawir itu mampu . Bahkan Kh Moenawir dalam menjaga hapalannya beliau melakukan Riyadhoh dengan membaca alquran secara terus menerus selama 40 hari 40 malam sampai terlihat oleh beberapa murid nya Mulut Kh Moenawir terluka dan mengeluarkan darah.

Kedisiplinan Kh.Moenawir dalam mengajar Alquran kepada murid-muridnya sangat ketat bahkan pernah muridnya membaca Fatiha samapi dua tahun diulang-ulang karena menurut Kh Moenawir belum Tepat bacaannya baik dari segi makhrajnya maupun tajwidnya, maka tak heran bila murid murid beliau menjadi Ulama-ulama yang Hufadz ( hapal quran) dan mendirikan Pesantren Tahfizul quran seperti Pon-pes Yanbu’ul Qur’an kudus (Kh.Arwani Amin) , Pesantren Al Muayyad solo ( KH Ahmad Umar) dll.

Peristiwa menarik pernah dialami oleh murid KH Moenawir, sewaktu beliau disuruh oleh istri Mbah Moenawir untuk meminta sejumlah uang kepada Mbah Moenawir yang akan digunakan sebagai keperluan belanja sehari hari, Kh moenawir selalu merogoh sejadahnya dan diserahkan uang tersebut kepada Muridnya, padahal selama ini muruid-muridnya hanya tahu bahwa sepanjang waktu mba moenawir hanya duduk saja di serambi masjid sambil mengajar alquran.

Kh.Moenawir wafat sekitar tahun 1942 dan dimakamkan di sekitar Pondok pesantren Munawir Krapyak Jogjakarta( bersambung)

SAYYIDAH ZAINAB AL KUBRO(CUCU ROSULULLOH YANG TABAH)

Sayyidah Zainab Al Kubro demikian Rosululloh SAW memberi Gelar kepada Cucunya dengan Al Kubro yang berarti yang Besar atau agung. Sayyidah Zainab merupakan anak dari Sayyidah Fatimah Azzahra ( Putri Rosululloh saw) dan Sayyidinah ali Karramalloh Wajha, saudara -saudara Sayyidah zaenab bernama Sayyidina Hasan dan Sayyidana Husein. Ketika Sayyidah zainab yang Lahir tanggal 5 jumadil awal tahun 6 Hijriyah Rosululloh Saw menggendong Zainab sambil menangis hingga bercucuran air matanya sambil berkata”Wahai putriku Fatimah ketahuilah bahwa Cucuku ini akan di timpa berbagai Musibah dan menghadapi banyak cobaan “, begitupun sewaktu Malaikat Jibril berkunjung ke rumah Rosulullh Saw dan melihat Zainab Cucu rosululloh saw Malaikat jibripun ikut Menangis “aku sedih melihat Anak ini yang akan menyaksikan dan mengadapi berbagai macam cobaan dan musibah.”kata Jibriel. Demikian Ramalan yang telah di gambarkan Rosululloh saw.

Ketika Kecil Sayyidah Zaenab menyaksikan bagaimana ibunya merawat Rosululloh saw yang sedang sakit, Hingga Rosululoh Wafat seluruh penduduk Madinah menangis, para Sahabat, Para pakir miskin dan warga seluruh kota berdatangan memberikan penghormatan terakhir kepada rosululloh tak terkecuali Zaenab kecil menyaksikan Para sahabat menggali Lubang kubur di kamar Sayyidah Siti Aisyah Neneknya, butiran tanah mengenai baju Zaenab dengan linangan air mata Zaenab menyaksikan tubuh Kakeknya Rosululloh SAW diturunkan keliang lahat dibantu ayahnya Sayyidina Ali dan Para sahabat. Semenjak Kematian Rosululloh Ibunda Zaenab begitu murung dan sangat sedih dan terkadang Zaenab melihat Ibunya sedang mengambil segenggam tanah dari maqom Rosululloh dengan menangis ibunya mencium tanah tersebut.Badannya terlihat kurus hingga 6 bulan setelah kakeknya wafat Ibunda Zaenab fatimah az zahrah meninggal dunia dekat maqom Rosulullh saw, untuk kedua kalinya Sayyidah zaenab melihat orang -orang yang di cintainya dimasukkan ke liang lahat. Zaenab juga teringat bagaimana ibunya mengajak dirinya melakukan khutbah pada kaum anshor dan muhajirin untuk melakukan pembaiatan kepada Sayyidina Ali Ka, dan meyaksikan pembakaran serta pendobrakan pintu rumah ibunya oleh Kaum yang menentang Kekhalifaan Sayyidah ali.

Menjelang remaja sayyidah Zaenab telah menjadi sosok wanita yang tangguh yang menjadi ibu bagi saudara-saudaranya Hasan dan Husein dan penuh dengan kasih sayang. Memasuki usia dewasa Zaenah dinikahkan dengan lelaki Alim dan shaleh bernama Abdulloh bin ja’far dan dikarunia tiga orang anak. Kebahagian Sayyidah Zaenab hanya sesaat musibah kembali menimpanya, Ayahandanya Sayyidina ali tewas terbunuh, Zaenab kembali menyaksikan Ayahnya dengan lumuran darah membasahi sekujur tubuhnya dan diusung oleh para sahabat menuju rumahnya. Sayyidina ali sempat dirawat beberapa hari namun akhirnya Beliau berpulang kerahmatulloh. Dengan linangan air mata zaenab menyaksikan kembali Orang yang dicintainya dimasukan keliang lahat. Beberapa lama setelah ayahnya Wafat Zaenab kembali mendapat Musibah kematian abangnya Sayyidina Hasan yang tewas diracun oleh para pengikut Muawwiyah dan Musibah itu belum lenyap selang beberapa lama Abangnya Sayyidaina Husein tewas juga di Padang Karbala dan yang lebih menyayat hati Zaenab tatkala menyaksikan Kepala husein dipenggal  dan ditancapkan diujung Tombak seraya di Arak ke Kufah. hati siapa yang akan tak hancur menyaksikan Pembantaaian keluarga Rosululloh saw, Dua mata Rosulloh ( hasan dan husein ) dibantai dengan keji. Tragedi tersebut terkenal dengan nama Tragedi Karbala, Sayyidah zaenab yang menyaksikan Tragedi Karbala hanya bisa berucap “Tidaklah aku lihat semua musibah ini adalah sesuatu yang indah, Kesyahidan Husein dengan cara yang tragis adalah kehendak Ilahi yang selalu sesuai dengan hikmah Ilahi dan keteraturan alam semesta.” Sungguh Sayyidah Zaenab sosok wanita yang tabah dan teguh yang patut diteladani , kesedihannya menanggung duka yang mendalam atas musibah yang menimpa keluarganya.

SYECH MUHAMMAD AL-YA’QUBI AL HASANI (ULAMA AHLI HADIST DARI DAMASKUS)

Syech Muhammad Al ya’qubi al hasani

Buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, ungkapan tersebut memang pantas di berikan kepada Seorang Ulama dari Damaskus yang memiliki pengetahuan sangat Luas terutama di bidang hadist. Syech Muhammad Al ya’qubi Al hasani demikian nama dari Tokoh Ulama terkemuka Dari Damaskus Syria yang lahir tahun 1963 . Ayah dan kakek beliau seorang Ulama termasyhur dan menjadi Mufti dimasjid Jami’i Al Umawi. Ayahnya bernama Al alamah Assyech Ibrahim Al Ya’qubi . Sejak kecil Syech Muhammad mendapat gembelengan dari Ayahnya dan menanamkan kedisplinan yang sangat tinggi. Dalam mendidik dirinya ayahnya melakukan berbagai metode penghapalan Kitab-kitab Matan dan qasidah qaasidah sebelum mempelajari Kitab kitab Induk. Setelah hapal matan – matan tersebut barulah ayahnya mengajari berbagai disiplin ilmu Syari’at lainnya seperti Al muthawatho karya Iman Malik, Syarah Al manar , Tafsir Al Anasafi, Kitab Assanusiyyah dll.

Dan kecerdasan yang dimillki Syech Muhammad Al Ya’qubi sudah tampak dalam usia remaja semua catatan, ulasan serta komentar yang telah dipelajari dari ayahnya beliau susun dalam sebuah kitab yang bernama“Al lu’lu al maknum wa azzabarjad al mashun fiima qoro’tuhu ‘ala allamah al walid min kutub wa al funun”

kitab Tersebut menjadi pegangan beliau dalam menggali kajian-kajian keimuan lainnya. Dan beliau mendapat Ijazah keilmuan langsung dari ayahandanya. Disamping beliau belajar dengan ayahnya Syech Muhammad juga berguru kepada Ulama-ulama terkemuka lainnya seperti Syech Muhammad Abu Yusr Abidin , Syech Muhammad Zainal Abidin At Tunisi dan Syech Abdul aziz “uyun Assud. Kedalaman Ilmu yang dimilki oleh Syech Muhammad Al Ya’qubi telah diakui bahkan sejak usia 12 tahun beliau sudah mengajar dan seringkali menggantikan ayahnya memberikan ceramah di Majlis ilmu jika ayahnya berhalangan Hadir. Diusia 14 tahun beliau juga sudah dipercaya untuk Berkhutbah Jum’at , menginjak 17 tahun diangkat menjadi Khotib disalah satu masjid terbesar di kotanya.

Ayahnya Al ‘alamah Syech Ibrahim Al Yaqubi

syech-ibrahim-bin-ismail-al-yaqubi.jpg

Disamping Ahli dalam ilmu hadist Syech Muhammad Al ya’qubi Al hasani juga seorang Sufi dan pemimpin Tarekat Syadziliyyah yang didapat dari Ayahnya dan tergolong silsilah Dzahabiyyah ( silsilah emas) , setara dengan Tokoh Sufi termashur lainnya seperti Syech Ibnu Atho’ilah Pengarang Kitab Al Hikam yang banyak dikaji di Indonesia. Setelah sekian lama beliau mengajar Di majllis-majlis ta’lim tahun 1990 Syech Muhammad Al ya’qubi meninggalkan seluruh aktivitas pekerjaannya dinegrinya dan melakukan ritual pengembaraan yang dalam dunia Sufi dinamakan” Uzla”, beliau berkelana dari satu negara ke negara lain untuk menyebarkan dan mensyiarkan Islam terutama di Erofah banyak sekali warga Erofah yang masuk Islam dan tertarik terhadap Islam itu karena Sifat Syech Muhammad Al yaqubi dalam dalam menyampaikan Risalah -Risalah Islam dengan bercermin kepada Ahlak dari Rosululloh SAW , belia juga selalu memberikan sugessti kepada Umat Islam Untuk menteladani Ahklak mulia Rosululoh SAW yang membawa Rahmat bagi Seluruh alam. Label Islam Sebagai Teroris yang di Hembuskan oleh Dunia Barat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Karya karya beliau banyak dijual ditoko -toko Erofah seperti Amerika dan Australia, Beliau dianggap sebagai tokoh Fenomenal yang menggabungkan Ajaran Syri’at dengan Tasawuf dan menghidupkan kembali Kejayaan Islam Di masa Silam didunia Barat.

Syech Muhammad Al Ya’qubi Al hasani sekitar tahun 2006 pernah juga singgah di Indonesai dan melakukan kunjungan keberbagai Pesantren-pesantren serta Majelis majlis ta’lim, Banyak Para Ulama Di indonesia yang ingin bertemu dengannya dan meminta Ijazah Sanad hadist Karena Beliau Adalah Ulama Ahli Hadist yang memiliki sanad Bersambung sampai ke Rosulullh SAW. Disamping melakukan pertemuan dengan Para Para Ulama dan Habaib ,Syech Muhammad Al Ya’qubi juga melakukan Ritual Ziarah Kemaqom Para Wali, dan kebetulan di daerah tinggal saya terdapat Maqom Waliyulloh Al Habib Husein Bin Abu Bakar Al Idrus Luar Batang Jakarta, dan Beliau sempat berziarah Keluar Batang dan Sangat menyesal sekali saya tidak sempat bertemu dengan beliau, Saya juga tidak mengetahui kedatangan beliau yang datang secara tiba-tiba keluar batang. Mudahah mudahan dilain waktu Alloh pertemukan saya dengan beliau.aminn

Syech Muhammad Al ya’qubi al hasani berziarah ke luar batang ziarah-ke-luar-batang.jpg

KH.TURAICHAN BIN ADJHURI(ULAMA AHLI FALAK INDONESIA )

                                                                  KH.TURAICHAN BIN ADJHURI

Umat Islam Indonesia memilik salah seorang tokoh falak dari kota Kudus Jawa Tengah yang cukup mumpuni dan layak diteladani. Beliau adalah KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi, yang semasa hidupnya dipercayai menjadi Ketua Markas Penanggalan Jawa Tengah.

Ulama kelahiran Kudus, 10 Maret 1915 ini adalah putera Kiai Adjhuri dan Ibu Nyai Sukainah. Terlahir di lingkungan agamis kota santri, sebagai anak yang membekali dirinya dengan belajar melaui sistem tradisional masyarakat yang telah turun-temurun dijalani keluarga dan teman-teman di sekitarnya. Mengaji pada para Kiyai dan ulama di sekitar tempat tinggalnya dan memulai pendidikan formal di daerah setempat tanpa mengurangi menimba ilmu dalam sistem tradisional. Satu hal yang menjadi ciri Mbah Tur, Sapaan akrabnya, dibanding tokoh-tokoh dari daerah lain adalah bahwa Beliau tidak pernah mondok di sebuah pesantren sebagai santri yang diasramakan. Meski sebenarnya hal ini lazim bagi para ulama di daerah asalnya, namun tidaklah demikian halnya dengan para ulama yang berasal dari daerah-daerah Nusantara lainnya.

Kiai Turaichan hanya mengenyam pendidikan formal selama dua tahun saja, yakni ketika berusia tiga belas hingga lima belas tahun. Tepatnya di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus pada kisaran tahun 1928 M. yakni sejak madrasah tersebut didirikan. Namun karena kemampuannya yang melebihi rata-rata, maka beliau justru diperbantukan untuk membantu palaksanaan belajar mangajar. Namun demikian Beliau tetap melanjutkan menuntut ilmu dalam garis tradisional (non formal).

Sejak mulai mengajar di Madrasah TBS Kudus inilah, Kiai Turaichan mulai aktif di dunia pergerakan. Dalam arti Beliau mulai melibatkan diri dalam dunia dakwah kemasyarakatan dan diskusi-diskusi ilmiah keagamaan. Mulai dari tingkat terendah di kampung halaman sendiri, hingga tingkat nasional.

Sejak saat itu pula Beliau mulai turut aktif terlibat dalam forum-forum diskusi Batsul Masail pada muktamar-muktamar NU. Kecerdasan dan Keberaniannya mengungkapkan argumen telah terlihat sejak awal keterlibatannya dalam forum-forum tersebut. Ia tanpa segan-segan mengungkapkan pendapatnya di depan siapa pun tanpa merasa pekewuh jika pendapatnya berbeda dengan pendapat ulama-ulama yang lebih senior, seperti KH. Bisri Sansuri dari Pati yang kemudian mendirikan Pesantren Denanyar Jombang.

Kiprahnya Mbah Tur juga telihat dalam dunia politik di tingat pusat. Beberapa kali Kiai Turaichan ditunjuk menjadi panitia Ad Hoc oleh pimpinan Pusat Partai NU. Sementara di daerahnya sendiri, tercatat Beliau menjadi Rais Syuriyah Pimpinan Cabang. Pernah juga dipercaya menjadi qodhi (hakim) pemerintah pusat pada tahun 1955-1977 M.

Namun spesifikasi keilmuan yang menjadikannya sedemikian populer dan kharismatis adalah di bidang falak. Hal ini dikarenakan Kiai Turaichan sedemikian teguh dalam memegang pendapatnya. Beliau tergabung dalam tim Lajnah Falakiyyah PBNU. Beberapa kali terlibat silang pendapat dengan pendapat ulama-ulama mayoritas, namun ia tetap kukuh mempertahankan pendapatnya. Terbukti kemudian, pendapat-pendapatnya lebih banyak yang sesuai dengan kenyataan. Hal inilah yang membuat kharisma dan kealiman serta ketelitian Beliau semakin diperhitungkan. Hingga Kiai Turaichan kemudian lebih dikenal sebagai ahli falak yang sangat mashur di Indonesia, dan mempunyai banyak murid menekuni ilmu falakiyah hingga sekarang.

Selanjutnya, Mbah Tur tidak pernah absen dalam muktamar-muktamar NU, kecuali sedang udzur karena kesehatan. Belakangan, ketika terjadi perubahan asas dasar NU dari asas Ahlussunnah wal Jamaah menjadi asas Pancasila, Mbah Tur menyatakan mufaroqoh (memisahkan diri) dari Jamiyyah (keorganisasian NU).

Hal yang menarik di sini adalah, meski telah menyatakan mufaroqoh secara keorganisasian namun Beliau tetap dipercaya sebagai Rais Suriyah di tingkat Cabang. Sedangkan untuk tingkat Pusat Kiai Turaichan memang tidak lagi aktif seperti dahulu. Karenanya, Kiai Turaichan kemudian mempopulerkan istilah ”Lokalitas NU” yang berarti tetap setia untuk eksis memperjuangkan Jam’iyyah NU dalam skala lokal, yakni di NU cabang Kudus saja. Untuk tingkat yang lain (lebih tinggi), Beliau telah menyatakan mufaroqoh. Bahkan seringkali Beliau juga seringkali memiliki pendapat-pendapat falakiyah (penetapan tanggal suatu kejadian yang berbeda dengan garis kebijakan PBNU, dan karena telah menyatakan mufaroqoh, maka beliau tidak merasa terikat oleh keputusan apa pun yang dibuat oleh PBNU.

Kendati demikian, Kiai Turaichan tetap menjalin hubungan yang baik dengan pihak-pihak yang sering menolak keputusannya. Bahkan Beliau selalu bersikap akomodatif kepada pemerintah, walaupun pemerintah pernah beberapa kali mencekalnya karena mengeluarkan pernyataan berbeda dengan pemerintah perihal penentuan awal bulan Syawal. Termasuk akan menyidangkannya ke pengadilan pada tahun 1984, ketika menentang perintah pemerintah untuk berdiam diri di rumah saat terjadi gerhana Matahari total pada tahun tersebut. Alih-alih menaati, Beliau justru mengajak untuk melihat peristiwa tersebut secara langsung dengan mata kepala telanjang.

Pada waktu terjadi peristiwa gerhana Matahari total tersebut, Mbah Tur memberi pengumuman kepada umat Muslim di Kudus, bahwa gerhana Matahari total adalah fenomena alam yang tidak akan menimbulkan dampak (penyakit) apapun bagi manusia jika iengin melihatnya, bahkan Allah-lah yang memerintahkan untuk melihatnya secara langsung. Hal ini dikarenakan redaksi pengabaran fenomena yang menunjukkan keagungan Allah ini difirmankan oleh Allah menggunakan kata ”abshara”. Artinya, perintah melihat dengan kata ”abshara” adalah melihat secara langsung dengan mata, bukan makna denotatif seperti mengamati, meneliti dan lain-lain, meskipun memang ia dapat berarti demikian secara lebih luas.

Pada hari terjadinya gerhana matahari total di tahun tersebut, Kiai Turaichan tengah berkhutbah di Masjid al-Aqsha, menara Kudus. Tiba-tiba di tengah-tengah Beliau berkhutbah, Beliau berkata kepada seluruh jamah yang hadir, ”Wahai Saudara-saudara, jika Kalian tidak percaya, maka buktikan. Sekarang peristiwa yang dikatakan menakutkan, sedang berlangsung. Silahkan keluar dan buktikan, bahwa Allah tidak menciptakan bala’ atau musibah darinya. Silahkan. Keluar dan saksikan secara langsung!” Maka, para Jamaah pun lantas segera berhamburan keluar, menenagadah ke langit dan menyaksikan secara langsung dengan mata kepala telanjang terjadinya gerhana Matahari total.

Setelah beberapa saat, para jamaah kembali ke tempatnya semula, acara khutbah khushufusy Syamsy pun dilanjutkan dan tidak terjadi suatu musibah apa pun bagi mereka semua. Namun karena keberaniannya ini, Kiai Turaichan harus menghadap dan mempertanggungjawabkan tindakannya di depan aparat negara yang sedemikian represif waktu itu. Meski demikian sama sekali Kiai Turaichan tidak menunjukkan tabiat mendendam terhadap pemerintah.

Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya pada 20 Agustus 1999, Mbah Tur termasuk ulama yang sangat antusias mendukung undang-undang pencatatan nikah oleh negara yang telah berlaku sejak tahun 1946 tersebut. Beliau sangat getol menentang praktik-praktik nikah Sirri atau di bawah tangan. Menurutnya, selama hukum pemerintah berpijak pada kemaslahatan umat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka wajib bagi seluruh umat muslim yang menjadi warga negara Indonesia untuk menaatinya. Artinya pelanggaran atas suatu peraturan (undang-undang) tersebut adalah juga dihukumi sebagai kemaksiatan terhadap Allah. Demikian pun menaatinya, berarti adalah menaati peraturan Allah. (SUMBER :WWW.NU.OR.ID)