Monthly Archives: Juni 2008

HABIB NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN (PERGINYA SANG SINGA PODIUM)

Pendiri yayasan Al Fachriyyah cileduk Habib Novel bin salim bin Zindan adalah putra dari seorang ulama kondang Habib Salim bin Zindan . Lahir di jakarta tanggal 18 april 1942 . Sejak kecil Habib Novel bin salim bin Zindan dididik langsung oleh ayahnya, sebagaimana keinginan dariAyahnya kelak habib Novel akan menjadi sosok Ulama yang istiqomah berjuang dalam menyebarkan Syiar Islam. Setelah dirasa cukup bekal ilmu yang diberikan Ayahnya, Habib Novel dikirim Ayahnya Ke Mekkah untuk memperdalam lagi ilmu agama, disana habib Novel berguru kepada SYech Alwi Almaliki seorang ulama termasyhur dan ahli dalam ilmu Hadist dan kebetulan Syech Alwi almaliki adalah sahabat Ayahnya .

Selama hampir delapan tahun menimba ilmu di Mekkah Habib Novel kembali ketanah air untuk melakukan Dakwah. Beliau berdakwah tak kenal lelah hampir seluruh pelosok Nusantara beliau pernah datangi , maka tak heran beliau mendapat julukan sebagai Singa Podium, Isi ceramahnya yang begitu bersemangat dan berapi-api mampu membakar semangat Uhkwat Islamiyah. Karisma yang dimilki Habib Novel sebagai sosok Ulama dan Mubaligh selalu mendapat tempat tersendiri di hati jama’ahnya dan para Ulama . Tahun 1990 beliau mendirikan Yasasan bernama Al Fachriyyah yang terletak dijl Prof Hamka Larangan cileduk selatan , pesantren yang juga banyak di huni oleh anak-anak yatim kini di Asuh oleh putranya Habib Zindan bin Novel .

Setelah hampir 35 tahun berdakwah , sekitar tahun 2004 Habib Novel mulai sakit-sakitan, Badannya yang dulu kekar dan gagah mulai terlihat kurus akibat Stroke menyerang, bicaranyapun sudah agak susah, Namun semangat beliau Untuk tetap berdakwah tetap tinggi , beliau sering kedatangan Tamu baik dari kalangan umum maupun dari para ulama ada yang sekedar silahturahim maupun untuk minta do’a dan Nasihatnya.

Habib Novel sangat mencintai santri-santrinya, Beliau Rutin membangunkan para santri untuk melakukan sholat subuh berjamaah dan tak jarang beliu juga menanyakan kesehatan santrinya, bila ada yang sakit supaya cepat dibawa kedokter.

Makin hari sakit habib Novel makin parah, jumat tanggal 23jun 2005 sepulang dari Sukabumi sekitar pukul 3 sore Habib Mengeluh di bagian Dadanya dan sekitar pukul 5 sore Habib Novel dipanggil Oleh Alloh SWt , berita Wafatnya Habib NOvel menyebar luas, dari Jumat malam sampai sabtu pagi telah banyak orang baik warga biasa , para ulama maupun Habaib datang untuk memberikan penghormatan terakhir Kepada Habib Novel . Habib Novel dimakomkan di Komplek Pesantrenn Al Fachriyyah , sebelum meninggal beliau pernah berwasiat kepada putranya agar nanti beliau dimakamkan di lingkingan psantren Al Fachriyyah agar semakin dekat dengan santri-santrinya.

SYECH SULAIMAN AR-RASULI MINANGKABAWI ( TOKOH ULAMA MINANG)

Sumatra Barat terkenal dengan gudangnya para Ulama sebut saja Syech Yasin Al Padani dan Buya Hamka keduanya sosok ulama yang sangat  mumpuni yang berasal dari Minang. Ada satu tokoh Ulama juga yang berasal dari Minang yaitu Syech Sulaiman Arrasuli.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi, lahir di Candung, sekitar 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, 1287 H./1871 M., wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H./1 Agustus 1970 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan madzhab Syafi’i. Tak jarang pula, Beliau dipanggil dengan sebutan “Inyik Candung”. Ayahnya, Angku Mudo Muhammad Rasul, adalah seorang ulama yang disegani di kampung halamannya.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, yang lebih dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syeikh Sulaiman, sejak kecil memperoleh pendidikan awal, terutama dalam bidang pelajaran agama, dari ayahnya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, Sulaiman ar-Rasuli pernah belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada masa itu Masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau dalam bentuk halaqah sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan.

Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi adalah di Mekkah. Ulama yang seangkatan dengannya antara lain adalah Kiyai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur (1287 H/1871 M – 1366 H/1947 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatra Utara (wafat 1355 H/1936 M), Syeikh Khathib Ali al-Minangkabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minangkabawi (sempat menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1957), Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minangkabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minangkabawi dll.

Sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M – 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M – 1352 H/1933 M) dll.

Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minangkabawi, beliau juga mendalami ilmu-ilmu daripada ulama Kelantan dan Pattani. Guru-gurunya ketika di Mekah antara adalah, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh Ali Kutan al-Kelantani, dan beberapa ulama Melayu yang bermukim di sana.

Perjuangan

Sekembalinya dari Mekah, Syeikh Sulaiman mendirikan pondok pesantren di tanah kelahirannya di Bukit Tinggi, Sumatera. Beliau berusaha untuk mempertahankan pengajaran menurut sistem pondok. Namun pada akhirnya, pengajian sistem pondok secara halaqah dengan bersila di lantai dalam pendidikan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli mulai dikombinasikan menjadi sistem persekolahan, duduk di bangku pada 1928, namun kitab-kitab yang diajar tidak pernah diubah. Bahkan sistem halaqoh ala pondok pesantren juga tetap dilaksanakan hingga saat ini.

Dalam waktu singkat, pesantren yang didirikannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitarnya. Dukungan ini mendorong bertambahnya jumlah murid yang menuntut ilmu di pesantren. Murid-murid yang belajar di pesantren tersebut tidak hanya berasal dari daerah setempat, melainkan juga datang dari berbagai wilayah Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Tapanuli, Aceh, dan bahkan, ada yang datang dari Malaysia.

Materi utama pendidikan di pesantren tersebut adalah pengajaran paham Ahlussunnah Waljamaah dan madzhab Syafi’i. Syeikh Sulaiman sangat konsisten menjalankan paham dan madzhab ini.

Pada tahun 1928 itu juga, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli bersama sahabat-sahabatnya Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho menggagas berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Baik dalam sistem pendidikan maupun perjuangannya, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan kawan-kawannya secara tegas dan berani mempertahankan dan berpegang dengan satu mazhab, yakni Madzhab Syafi’i.

Selain aktif di dunia pendidikan agama, Syeikh Sulaiman juga aktif di dunia politik dan keorganisasian. Sejak tahun 1921, ia bersama dua teman akrabnya, Syeikh Abbas dan Syeikh Muhammad Jamil, serta sejumlah ulama ‘kaum tua‘ (golongan ulama yang tetap mengikuti salah satu dari empat madzhab dalam fiqh: Maliki, Syafi‘i, Hanafi, dan Hanbali) Minangkabau, membentuk organisasi bernama ‘Ittihadul Ulama Sumatera‘ (Persatuan Ulama Sumatera) yang bertujuan untuk membela dan mengembangkan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah madzhab Syafi‘i. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan majalah al-Radd wa al-Mardud sebagai sarana untuk menjelaskan serta mempertahankan paham Ahlussunnah waljamaah madzhab Syafi’i.

Sedangkan para ulama Malaysia yang seangkatan dengan Sulaiman ar-Rasuli dan sama-sama belajar di Mekah adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M – 1339 H/1921 M) dan Tok Kenali (1287 H/1871 M – 1352 H/1933 M).

Dalam penentuan awal dan akhir puasa (Ramadhan), Syeikh Sulaiman ar-Rasuli lebih menyetujui metode rukyah (melihat langsung bulan sabit). Ini merupakan sebentuk penegasan beliau untuk mempertahankan corak keislaman yang berakar pada tradisi Nusantara. Dalam banyak hal Syeikh Sulaiman ar-Rasuli beserta seluruh ulama Tarbiyah Islamiyah mempertahankan ciri-ciri dan cita-cita keislaman tradisional menurut manhaj Ahlussunnah Waljamaah bersama-sama dengan para ulama Nahdhatul Ulama (NU) dan semua ulama di seluruh dunia Islam yang masih tetap berpegang teguh kepada Mazhab Syafi’i.

Menurut Hamka, Syeikh Sulaiman ar-rasuli merupakan seorang ulama yang sangat gigih memperjuangkan kehidupan Umat Islam. Mendidik bangsanya menjadi lebih maju dan berusaha melepaskan diri dari penjajahan. Hamka melansir dalam bukunya yang berjudul Ayahku Menulis, “Cuma Beliau (maksudnya Dr. Haji Abdul Karim Amrullah) berselisih dalam satu perkara (dengan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli). Bahwa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli mempertahankan Thariqat Naqsyabandiyah, dan salah seorang di antara Syeikhnya (mungkin maksudnya Syeikh Saad Mungka, musuh polemik Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau, ed.), sedangkan pihak Dr. Haji Abdul Karim Amrullah dan Syeikh Jambek tidak suka kepada tarekat itu.”

Karya-karya

Sebagai seorang ulama, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli telah melahirkan beberapa karya, karya-karya ini banyak di pelajari oleh para pelajar Muslim, di Munangkabau, Sumatera dan beberapa kawasan Nusantara lainnya.karya-karya tersebut antara lain adalah :

1. Dhiyaus Siraj fil Isra‘ Walmi‘raj
2. Tsamaratul Ihsan fi Wiladah Sayyidil Insan.
3. Dawaul Qulub fi Qishshah Yusuf wa Ya‘qub
4. Risalah al-Aqwal al-Washitah fi Dzikri Warrabithah
5. Al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Quran
6. Al-Jawahirul Kalamiyyah.
7. Sabilus Salamah fi wird Sayyidil Ummah
8. Perdamaian Adat dan Syara‘.
9. Kisah Muhammad ’Arif

Dalam hal ini, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah ulama besar yang jarang tandingannya, kukuh dan kuat mempertahankan agama berorientasikan Sunni Syafi`i. Syeikh Sulaiman pulalah yang hingga kini dipercayai oleh masyarakat Minang sebagai penggagas landasan kemasyarakatan islami di Sumatera Barat dalam adagium ”adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan kitabullah”.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli juga merupakan ulama yang gigih mempertahankan tatanan kemasyarakatan Minangkabau untuk tetap mempertahankan tradisi kesalehan Nusantara. Setidak-tidaknya hal ini terlihat dari bagaimana Beliau memperjuangkan prinsip ”Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena musyawarah” serta ”Tungku tigo sajarangan” yang telah diyakini masyarakat Minang sebagai cara kebijakan paling berrurat akar dalam tradisi Nusantara serta sama seklai tidak bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam.

Pengaruh

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, sempat dilantik sebagai anggota Konstituante dari PERTI yang kemudian dibubarkan oleh Presiden Soekarno dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan dan lawan. Sejak zaman pemerintah Belanda, pembesar-pembesar Belanda datang mengunjunginya. Demikian juga pemimpin-pemimpin bangsa setelah kemerdekaan Indonesia. Soekarno sejak belum menjadi Presiden Indonesia hingga setelah berkuasa, sering berkunjung ke rumah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli.

Tokoh ini adalah seorang ulama besar Indonesia yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Beliau adalah golongan Kaum Tua yang sangat gigih mempertahankan Mazhab Syafie. Syeikh Sulaiman menyampaikan pesan bahwa dengan memajukan pendidikan, maka umat Islam akan dapat bangkit dan berkiprah lebih aktif dalam usaha membangun bangsa dan agama. Syeikh Sulaiman berjasa besar dalam mengembangkan paham Sunni Syafi‘i dan tarekat Naqsybandiyah.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli merupakan salah satu ulama besar asal Sumatera Barat yang gigih dalam membela Islam. Ia wafat dalam usia 85 tahun, yaitu bertepatan dengan tanggal 28 Rabi‘ul Akhir 1390 H/1 Agustus 1970, dan dimakamkan di Komplek Madrasah Tarbiyyah Islamiyyah, Candung, Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada hari pengkebumian beliau, diperkirakan tiga puluh ribu umat Islam dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir pada jasad Beliau, termasuk para pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia. Bendera Republik Indonesia dikibarkan setengah tiang selama 3 hari berturut-turut oleh Pemerintah dan rakyat Sumatera Barat, untuk menyatakan rasa turut berbelasungkawa dengan kepulangan al-’Alim al-’Allamah al-Fadhil Maulana Syaikh Sulaiman ar-Rasuli bin Angku Muhammad Rasul al-Minkabawi, kembali ke haribaan Allah SWT. Semoga Allah sentiasa melimpahkan rahmat dan keredhaan kepadanya (Sumber http://www.nu.or.id penulis Syaifullah Amin)

SAHABAT NABI YANG MELAKUKAN QHISOS KEPADA ROSULULLOH SAW

Menjelang Rosululloh Saw wafat , Nabi memanggil para sahabatnya untuk berkumpul. “Wahai kaum Muslimin siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil Qhisos, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik dari pada nanti aku akan menanggung semuanya di akherat . Semua sahabat terdiam ,lalu berdirilah Sahabat yang bernama Ukasyah Ibnu Muhsin, “saya Ya Rosul….Saya akan menuntut hukuman Qhisas kepada mu Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat mencium Paha mu Saat itu engkau melecutkan Tongkat kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambungku” ucap ‘Ukasyah dengan lantang.

Baiklah Ya Ukasyah..aku kan terima hukuman Qhisas ini “Jawab Rosulululloh Saw, lalu Rosul menyuruh bilal mengambil tongkat Nya di rumah fatimah anaknya Rosululloh. Bilal bergegas menuju Rumah Fatimah untuk mengambil Tongkat Rosululloh, Apa yang akan dilakukan Ayahku dengan tongkatnya wahai bilal ” Tanya Fatimah. “Ada seoarang sahabat yang akan melakukan Qhisos Kepada Rosulululloh” Jawab Bilal. Dengan nada Marah Fatimah menjawab ” Siapa gerangan yang tega mengqhisos kepada Rosululloh “!! . Bilal tidak menjawab dan bergegas pergi untuk menyerahkan tongkat tersebut Kepada Rosululloh SAW.

Lalu Rosululloh Saw menyerahkan tongkat tersebut kepada Ukasyah bin muhsin, untuk segera melakukan qhisas terhadap Rosulululloh Saw. Lalu tiba-tibalah berdirilah Sahabat Abu bakar dan Umar, “Hai Ukasyah biar aku saja yang menggantikan Rosululloh untuk di qhisas kau pilih bagian mana saja sesukamu untuk kau pukul tongkat itu ke tubuhku “Kata Abu bakar yang sejak tadi menahan amarah karena tidak tega melihat rosululolloh akan di sakiti. “Jangan Hai Abu bakar Alloh telah menempatkan kedudukan dan niatmu di akherat nanti..duduklah ” Jawab Rosululloh. Bangkitlah Sayyidina Ali” Aku kemana-mana selalu bersama rosululloh, maka qishas lah aku …jangan kau qhisas Rosulullloh ” Kata Sayyidina Ali RA. “duduklah Hai Ali …Alloh juga telah menempatkan keduduan dan Niatmu ” Jawab Rosululloh. Tampilah cucu-cucu kesayangan Rosululloh Hasan dan Husein ditengah kerumunan Sahabat ” Kamu tahu kami adalah cucu-cucu rosululoh, biar kami saja yang kau qhisas itu sama saja dengan kau mengqhisas rosululloh ” kata Hasan husein .”duduklah kalian Wahai dua bola mataku.” kata rosululloh.

Suasana begitu tegang dan mengharukan ,karena semua sahabat tidak tega Manusia suci yang mereka cintai akan di cambuk dengan Tongkat oleh Ukasyah. Lalu Ukasyah meminta kepada rosululoh untuk membuka bajunya” Wahai Rosululloh sewaktu kau memukulku dengan tongkat, waktu itu aku sedang tidak pakai baju jadi aku minta kepada engkau untuk melepaskan Bajumu” kata Ukasyah. Lalu Rosululloh membuka bajunya terlihatlah Tubuh rosululloh yang putih bersih memancarkan cahaya, tiba-tiba Ukasyah memeluk tubuh putih tersebut sambil menciumnya dengan linangan air mata ukasyah yang menempel di tubuh rosululloh sambil berkata” Ya rosululloh siapa yang tega memukulmu…aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuh sucimu agar tubuhku bisa terlindungi dari jilatan api neraka” Para sahabat yang sejak tadi manangis meyaksikan peristiwa tersebut berkumandang takbir Alloh huakbar…’ Wahai para sahabatku kalau kau ingin melihat penghuni surga dialah orangnya “kata rosululloh Saw sambil memeluk Ukasyah

KH.MOC TIDJANI DJAUHARI (TOKOH ULAMA INTELEKTUAL MADURA)

Pengasuh Pondok Pesantren Moderen Al Amien Sumenep Madura Kh.Tidjani Djauhari lahir di Prenduan, Oktober 1945 Ayah beliu juga seorang ulama terkemuka bernama KH Achmad Djauhari Chotib ibunya bernama Nyai maryam Abdullah. Sejak Kecil Kh Tidjani mendapat gembelengan dan tempaan ilmu dari Ayahnya yang memang seorang ulama . Ayahnya mengirim beliau untuk menimba diberbagai pondok- pesanten diantaranya di Gontor Jawa Timur di bawah asuhan KH Zarkasyi. Kecerdarsan Kh Tidjani dalam menimba ilmu digontor telah membuat simpatik Gurunya hingga akhirnya menikahkan Kh Tidjani dengan Putrinya . Selepas digontor Kh Tidjani meningalkan Tanah air untuk melanjutkan studi di timur tengah di Jamiat Islamiyah Madinah dan Jamiat Malik Abdul aziz Mekkah hingga memperoleh gelar S2 , selama di timur tengah Kh Tidjani di percaya menjadi sekjen Rabithoh A’lam islami dan sering memberikan seminar serta diskusi -diskusi internasional keberbagai negara seperti Pakistan, Maroko , malaysia madinah dll.

Setelah sekian lama berada ditimur tengah Kh Tidjani kembali ketanah air untuk melakukan Dakwahnya, Keintelektualan yang dimiliki Kh tidjani telah memberikan suatu kontribusi tersendiri bagi masyarakat Madura, Beliau pernah mengundang hampir 150 ulama pesantren untuk belajar akses internet di pondok-pesantren Al amien, karena menurutnya ulama-ulama pesantren harus tahu juga informasi-informasi aktual dengan basis multimedia. Selain menjabat sebagai dewan pakar ICMI ,Beliau juga aktif di Ma’had A’ly Indonesia dan juga sebagai penggagas berdirinya BASSRA (badan silahturahim ulama pesantren se Madura). Sebagai seorang ulama dan tokoh Masyarakat madura Kh.Tidjani merasa memiliki tanggung jawab terhadap umat, beliau sadar bahwa budaya Paternalistik masih kental melekat pada masyarakat Indonesia, maka konsekwensinya peran dan tanggung jawab nya menjadi sentral signipikan. Dan beliu juga sangat memperhatikan pentingnya pendidikan bagi masyarakat.

Kamis tanggal 27 september 2007 sekitar pukul 02.00 dini hari Kh.Tidjani meninggal dunia, Masyarakat telah kehilangan sosok ulama yang selama ini menjadi tempat mengadu dari berbagai persoalan, tangisan dari para murid-murid beliau mengiringi ketempat peristirahatan terakhirnya. Suasana duka menyelimuti komplek Pondok-pesantren Al amien terbayang sosok Kyai yang selama ini menjadi pembimbimnya dalam menimba ilmu selamat jalan kyai…semoga Alloh swt menempatkannnya di tempat yang mulia.Aminn

GUS DUS VS HABIB RIZIQ SYIHAB…..

Saya tantang Gus Dus untuk bermubahalah (sumpah),”silahkan Gus dur bawa anak dan istrinya ,saya juga demikian, kita bersumpah dihadapan Alloh ,siapa yang benar diberkati dan siapa yang salah akan dilaknat dan di kutuk oleh Alloh SWt serta mati dalam keadaan Hina, kalau Gus Dur berani ayo Mubahalah” tantang Habib Riziq Syihab, ketika Gus Dur memberikan pernyataan terhadap keluarnya SKB oleh pemerintah.Gus dur beberapa waktu lalu memberikan pernyataan Bahwa Dia akan Membela Ahmadiyah sampai mati dan akan menuntut pemerintah karena telah melarang Hak warga ahmadiyah dalam menjalankan aktifitasnya.

Saya heran dengan Gus Dus yang selalu membela kaum yang hampir mayoritas umat Islam menuntut pembubaran Ahmadiyyah, Dia malah membelanya. Pernyataannya selalu membuat Bingung Umat, selalu melawan Arus, dulu Umat Islam protes terhadap penampilan Inul Daratista lewat Goyang Ngebornya, Gus dur membela Inul dengan alasannya itukan pikiran yang ngeres dan jorok aja yang memandang Goyang Inul membangkitkan syahwat laki-laki dan masih banyak lagi pernyataan Gus Dur yang kontreversi. Anehnya Walaupun pernyataan tersebut sering membuat umat bingung Gus Dur memilki Pendukung yang fanatikdan loyal terhadapnya. Mayoritas pendukung Gus Dur berada di Basis-basis Nahdlatul Ulama terutama di Jawa timur dan Jawa tengah. Pembelaan Gus Dur terhadap Ahmadiyah juga didukung oleh para tokoh Nasional , “Saya tidak membela Ajaran Ahmadiyah tapi hanya membela Warga ahmadiyah yang berhak untuk menjalankan keyakinannya ” Kata Gus Dur. Namun menurut saya Pembelaan Gus Dur terhadap Ahmadiyah telah menyakitkan Hati Umat Islam Ahlus Sunnah dan para Ulama serta habaib yang berjuang dalam membela Agama Alloh dan membela Perjuangan Rosululloh, jelas -jelas Ahmadiyah telah melakukan Penodaan terhadap Agama Islam.Pembelaan Gus dur terhadap Ahmadiyah terlalu berlebihan atau mungkin barangkali Gus Dur punya Rencana lain untuk Meluruskan Aqidah Warga Ahmadiyah yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya dengan caranya sendiri, karena dari dulu Gus Dur selalu menentang arus dan kontroversial .Gus dur mahkluk Tuhan yang kontroversial Tapi apapun niat Gus Dur terhadap Ahmadiyah telah membuat Marah dan kecewa para Ulama dan Habaib terutama Habib Riziq Assyihab yang menantang Gus Dur Untuk melakukan MUbahalah ( sumpah dihadapan Alloh Siapa diantara mereka yang benar).

Namun perlu diingat baik Gus dur maupun Habib Riziq memiliki basis Massa yang begitu banyak, pernyataan -pernyataan yang keluar dari kedua Tokoh ini akan berimbas pada masa akar rumput, dan dikhawatirkan akan terjadi konflik horizontal . Peristiwa Monas kemaren juga telah memancing Massa Gus dur untuk melakukan perlawanan terhadap Massa Habib Riziq ( FPI), beberapa daerah di jawa tengah dan jawa timur sempat memanas lewat pernyataan Habib Riziq yang dinilai telah menghina GUS DUR, namun aksi -aksi massa tersebut bisa diredam lewat keterlibatan para ulama- ulama Nahdlatul Ulama untuk menenangkan massanya agak tidak terlibat konflik Horizontal sesama Muslim dan sesama anak bangsa.

Berkembangnya ajaran Ahmadiyah di Indonesia tentu hal ini menjadi bahan renungan untuk kita semua baik itu para Ulama, para habaib dan Mubaligh. Kemana mereka berdakwah selama ini ? terlalu sibuk dengan majlis ta’lim nya masing-masing, Ormasnya masing-masing , partainya masing-masing sehingga Dakwah untuk membentengi Aqidah dengan tauhid Ahlus Sunnah diMasyarakat terlupakan. Belum lama muncul Ahmad Musadik yang mengaku juga sebagai Nabi dan tidak menutup kemungkinan akan muncul orang -orang yang mengaku Nabi lainnya dan masyarakat yang kurang dibentengi Aqidah dengan tauhid akan terjerumus kedalam Aliran-aliran yang menyimpang dari Ajaran Islam . Mari interopeksi diri rapatkan barisan …jangan terpecah belah ….bentengi Kaum Muslimin dengan Aqidah dan tauhid yang sebenar-benarnya. Dan semoga alloh selalu memberikan Kekuatan kepada para Ulama dan Habaib yang selalu Istiqomah dalam berjuang membela agama Alloh dan membela nabi Muhammad SAW.

FPI BERANI BERBUAT BERANI BERTANGGUNG JAWAB…..

KETUA FRONT PEMBELA ISLAM

“BERANI BERBUAT KITA BERANI BERTANGGUNG JAWAB” demikian ungkapan Habib Riziq Syihab saat Ratusan Aparat kepolisian mendatangi Markas FPI di Petamburan 3. Ultimatum pihak kepolisian untuk menyerahkan diri para tersangka kasus penyerangan FPI terhadap AKKBB pada minggu 1 juni kemarin dalam waktu 24 jam tidak di gubris FPI, Pagi hari tgl 4 jun pukul 06.00 1500 personil pihak kepolisian lengkap dengan persenjataan dan pasukan Huru-hara nya merangsek masuk ke markas FPI untuk mencari tersangka kasus penyerangan terhadap masaa AKKBB , satu persatu anggota FPI dibawa kemobil tahanan hingga mencapai 56 orang di cokok polisi untuk dijadikan tersangka maupun untuk dimintai keterangan, dan Presiden FPI pun Habib Riziq Assyihab yang didampingi Para pengacara Muslim turut serta mendampingi 56 anggotanya untuk dibawa ke POLDA METRO . Saya merasa heran begitu banyaknya personil kepolisian yang diturunkan hanya untuk menangkap beberapa tersangka yang notabennya bukan seorang penjahat ataupun Teroris , mereka hanya rakyat sipil biasa yang melakukan tindakan kekererasan itupun ada yang hanya ikut-ikutan ataupun terperovokasi hingga terjadi penyerangan tersebut. Memang sangat di Sesalkan teman-teman yang tergabung dalam LASKAR UMAT ISLAM yang di dalam terdapat FPI dan laskar-laskar lainnya, melakukan tindakan anarkis dengan melakukan penyerangan terhadap MASSA AKKBB, Saya yang menyaksikan peristiwa tersebut di layar televisi begitu terenyuh dan malu mengaku sebagai umat Islam. Penyerangan Sepihak yang dilakukuan FPI dan laskar lainnya tentu ini akan menjadi coreng bagi umat Islam. Kenapa tidak bisa menahan diri ? kita semua umat islam Ahlus Sunnah juga sedang menanti keputusan SKB pelarangan Ahmadiyah oleh pemerintah. Dengan kasus penyerangan ini tentu akan akan sia-sia perjuangan Para Ulama dan Habaib yang melarang Ahmadiyah berkembang di Tanah air.

Negara ini adalah negara hukum. sungguh khawatir kekerasan-kekerasan yang terjadi seperti kemarin itu justru akan membuat konflik horizontal berkepanjangan yang ujung-ujungnya akan merugikan umat Islam sendiri, Islam, dan Indonesia. Apalagi saat ini ‘tensi masyarakat’ sedang sangat tinggi. Karena itu pemerintah –sebagai pihak yang paling utama bertanggungjawab yang mengemban amanat dan memiliki perangkat untuk menyelesaikan permasalahan seperti konflik horizontal ini hendaknya segera bertindak sesuai kewenangannya serta sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku di negeri ini.

Lambatnya Pemerintah dalam Menerbitkan SKB pembubaran Ahmadiyah juga menjadi pemicu terjadinya konflik tersebut .Para Ulama serta kaum muslimin lainnya seadng menanti keputusan pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyyah, hingga kini Pemerintah belum mengeluarkan keputusan apapun tentang Ahmadiyyah begitupun sebaliknya Laskar umat Islam dan FPI harus bisa menahan diri untuk tidak melakukan aksi selama pemerintah belum memberikan keputusan tentang SKB pembubaran Ahmadiyah, hal ini tentu akan menguntungkan Pihak Ahmadiyyah dengan kejadian penyerangan kemarin.

Sementara itu kaum muslimin sebagai mayoritas di negeri ini, terutama para pimpinan mereka –termasuk dalam rangka memperjuangkan prinsip mulia apapun– hendaklah tetap mengedepankan sikap tidak berlebih-lebihan, sikap kearifan dan kesantunan seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Pemimpin agung kita, Nabi Muhammad SAW. Tidak justru mengikuti cara-cara munkar yang seharusnya kita cegah. Semangat membela Islam dan amar makruf nahi munkar, mestilah dilakukan dengan cara-cara Islami dan Santun. Mari tetap jaga ukwah islamiyyah jangan terpecah belah…kasus kemaren di monas cukuplah menjadi pelajaran berharga bahwa kekerasan tidak bisa menyelesaikan masalah bahkan akan memperkeruh suasana dan menimbulkan konflik horizontal baik sesama muslimin maupun sesama anak bangsa.