Monthly Archives: Januari 2009

HABIB ALI BIN HUSEIN AL ATHOS ( Gurunya ulama – ulama betawi)

Jakarta dengan predikat sebagai kota metropolitan , dengan hingar bingar tempat hiburan dan maksiat yang merajalela. Kalau bukan karena cinta Alloh kepada Ulama dan Habaib yang senantiasa menggelar majlis majlis ilmu dan majlis majlis dzikir Sudah Alloh luluh lantahkan kota jakarta ini . Majlis ilmu dan dzikir yang telah meredam murka Alloh. Ulama dan habaib yang menjadi Paku dan benteng dalam mengajak umat untuk selalu taat terhadap perintah Alloh.

3-habaib

Sekitar tahun 1940 Jakarta atau dulu di sebut Betawi punya Banyak Tokoh ulama dan pejuang dan yang paling menjadi panutan dan memiliki banyak murid yang tersebar di tanah air adalah Habib Ali al habsyi, habib Ali bin husen Al athos dan habib Salim bin Jindan. Trio Ulama tersebut yang dengan gencar memperjuangkan Syiar-syiar agama alloh.

Habib Ali bin Husein Al athos adalah  Ulama kelahiran Hadro maut terkenal dengan julukan Habib Ali Bungur. Lahir di Huroidhah 1 muharam 1309 H atau bertepatan 1889 M . Nama lengkap beliau Al-Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. Sejak kecil habib ali belajar kepada para ulama – ulama Setempat , sejak dulu sampai saat ini kota Hadro maut gudangnya para ulama dan auliya, bahkan salah seorang ulama di Jawa timur   bahwa tukang sapu ditarim banyak berpredikat sebagai Wali, itu baru tukang sapunya bagaimana dengan Ulamanya. Setelah sekian lama belajar di kotanya Habib ali melakukan pengembaraan ke kota suci mekkah untuk bejalar sekaligus menunaikan ibadah haji. Di Mekkah habib ali mempergunakan waktunya untuk belajar kepada para ulama setempat . Kurang lebih 4 tahun lamanya beliau di Mekkah akhirnya sekitar tahun 1916 Habib Ali melakukan dakwah ke berbagai negara hingga akhirnya Beliau Singgah dan menetap di Jakarta . Di samping melakukan Dakwah di Jakarta Habib Ali juga tak segan segan untuk belajar dan mengambil Tabaruk dari Para ulama -ulama Sepuh di tanah air, Seperti habib Muhammad al muhdhor (bondowoso ), Habib Abdullohbin Muhsin Al athos ( Bogor).

habib-ali-binj-husein-al-athosPergolakan politik di tanah air memicu juga semangat Habib Ali Bungur untuk mengobarkan semangat Jihad melawan penjajah dan komunis yang telah cukup lama membuat bangsa indonesia menderita belum lagi para penjajah melakukan Misi menyebarkan Agama Nasrani dengan melakukan tebar pesona dan simpatik agar rakyat yang telah menderita mau mengikuti agamanya . Belum lagi muncul nya aliran Komunis anti Tuhan ( atheis ) yang bernaung di bawah partai PKI Hal inilah yang membuat Habib Ali bungur dan Para Ulama ulama betawi lainnya berusaha sekuat tenaga menjaga Aqidah umat Islam agar mereka terbentengi dan tetap teguh memegang ajaran Islam yang sebenarnya.

Habib Ali bungur sosok ulama yang tawadhu dan konsisten dalam menjalankan ajaran agama, Wibawa dan pengaruh beliau sangat besar dalam perkembangan islam di Betawi, beliau tak segan segan menegur pejabat dan aparat pemerintahan yang singgah kerumahnya untuk lebih mencintai warganya. Kehidupannya sangat sederhana tak silau dengan gemerlap dunia. Walaupun demikian beliau menganjurkan agar Rakyat hidup berkecukupan dan tidak menderita.

Salah seorang ulama dan pengasuh Pon -pes Darul Hadist Al faqihiyyah malang  Al marhum Al habib Abdulloh bil Faqih  pernah mengatakan bahwa Habib Ali bungur adalah seorang Wali Qutub di jamannya dan seorang pemimpin Rohani Islam yang selalu konsiten mengamalkan syariat-syariat Islam .

Ulama – ulama besar betawi banyak belajar kepada Habib Ali Bungur diantaranya seperti KH Abdullah Syafi`i, KH Tohir Rohili, KH Fatullah Harun, KH Hasbialloh, KH Ahmad Zayadi Muhajir, KH Achmad Mursyidi, Syekh KH Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary, mu`allim KH M Syafi`i Hadzami dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang tersebar di tanah air.

Habib Ali bungur sangat mencintai dan menghormati para ulama shalafus Sholeh hingga beliau mengarang kitab tentang sejarah perjalanan ulama -ulama Hadro maut dari tanah kelahirannya sampai ke indonesia. Kitab tersebut di beri judul Tajul A’ras fi Manaqib Al-Qutub Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas, disamping memuat Manakib shalafus Sholeh juga Kitab tersebut berisi Mutiara – mutiara Tashauf dan Thariqoh Alawiyyah .

Pagi tanggal 16 Feburuari 1976 Habib Ali Bungur menghembuskan Napasnya yang terakhir, Langit Jakarta menjadi mendung tetesan dan linangan air mata mengalir dari murid murid beliau dan rakyat yang sangat mencintai beliau . Ribuan Peziarah berdatangan dari berbagai pelosok nusantara untuk memberikan penghormatan terakhir, Jakarta kehilangan sosok ulama yang menjadi panutan dan guru para ulama di Jakarta.

KISAH KHALIFAH HISYAM BIN ABDUL MALIK DAN SEORANG ULAMA

Nama Hisyam bin abdul malik sangat di takuti oleh para pemimpin-pemimpin Barat kususnya Eropa. Khalifah kesepuluh dari Bani Umayyah hampir 20 tahun memimpim dan sering melakukan perluasan kekuasaan sampai ke Eropa dan Romawi.

Ketika masih menjabat Gubernur Hisyam bin abdul malik melakukan perjalanan Dinas menuju kota Suci Mekkah dengan menggunakan fasilitas Negara . Rombongan dalam jumlah besar temasuk didalamnya para sanak keluarga dan para pengawalnya. Sesampainya di kota Mekkah Gubernur Hisyam bin abdul malik sangat ingin bertemu dengan Sahabat Rosul yang masih hidup, namun sangat di sayangkan Sahabat Rosululloh SAW yang terakhir telah meninggal dunia tak lama Gubernur Hisyam menginjakkan kakinya di Kota Suci Mekkah. Hisyam bin abdul malik terkenal pribadinya yag suka menerima pendapat dam masukan dari para Ulama.

Karena sahabat Rosul yang terakhir telah meninggal ,akhirnya para pengawalnya menghadirkan Sosok Tabi’in ( generasi ulama setelah sahabat ) sebagai gantinya untuk dipertemukan dengan Gubernur Hisyam bin abdul malik.

Tabi’in tersebut bernama Thawus al Yamani, dengan gayanya yang cuek dan santai , Thawus menghadap sang Gubernur di tenda peristirahatannya yang terhampar permadani berwarna merah yang sangat Mewah , Thawus melepaskan sandalnya ketika akan menginjak permadani berwarna merah tersebut , dengan gayanya yang cuek tanpa basa basi , Thawus hanya mengucapkan “Assalamualikum” lalu duduk di sebelah Sang Gubernur sambil berkata “apa kabarmu Hisyam…..??? Memperhatikan tingkah laku Thawus tersebut membuat marah sang Gubernur, Thawus dianggap meremehkan dirinya selaku Gubernur, Pertama Masuk dengan melepas sandalnya dekat permadani merah singgasana Gubernur, Kedua Hanya mengucapkan salam tanpa mengucapkan salam ta’zhim ( salam agung ) kepada seorang Gubernur, Ketiga memanggil namannya tanpa Gelar dan Kunniyah . Gubernur Hisyam bin abdul malik berdiri dan mengacungkan pedangnya ingin menebas leher Thawus yang dianggap telah menghina petinggi kerajaan , Namun Cepat –cepat Thawus mencegahnya “ Sabar Hai Hisyam…..Engkau sedang berada di Tanah suci Alloh , demi tempat yang suci dan mulia ini engkau tidak boleh melakukan hal yang buruk termasuk membunuhku” .Bagaimana aku tidak marah dengan perlakuanmu yang telah menghina seorang gubernur” jawab Hisyam.

Wahai Hisyam , aku lepas sandalku karena aku juga melepas sandalku 5 kali sehari untuk melakukan sholat dan Alloh pun tidak marah dan murka atas perbuatanku mengapa kau sebagai hamba Alloh harus marah ???? Aku tidak mengucapkan salam Tazhim ( salam Agung ) dengan kata kata Amirul mu’minin, karena tidak semua orang senang atas kepemimpinannmu untuk itu aku tidak mau berbohong!!!! Aku memanggil namamu tanpa gelar kebesaran dan Kuniyyah karena para kekasih Alloh di sebut di dalam Alquran di pangil namanya tanpa Gelar seperti Ya Isa, Ya Daud , Ya Ibrohim justru Alloh memanggil Musuh-musuh Alloh dengan sebutan Gelar dan Kuniyyah seperti “Abu Lahab” dan Aku duduk di sampingmu karena aku pernah mendengar Sayyidana Ali pernah berkata “kalau kau ingin melihat Calon penghuni neraka ..maka lihatlah orang yang duduk sementara orang sekitarnya berdiri.

Hisyam yang tadinya Marah mendengar Nasihat Thawus pun menangis dan menyesali atas kesombongannya selama ini. Semenjak kejadian itu Hisyampun menjadi sosok pemimpin yang Tawadhu dan selalu menerima masukan dan kritik dari berbagai pihak. Dan Hisyam selalu minta nasihat dari para ulama agar Dia bias mnenjadi pemimpin yang adil .