Monthly Archives: Oktober 2019

KH.MOCH THOWIL (ULAMA BANTEN YANG SEDERHANA DAN TAWADHU)

      khmthowil1

        Banten di kenal sebagai gudangnya Ilmu, Jawara dan Ulama. Banyak tokoh –tokoh jawara  yang sekaligus  ulama lahir di Banten. Sebut saja Syech Nawawi Albantani yang menjadi Ulama besar bahkan karya karya kitabnya masih di jadikan Refrensi utama  para penuntut ilmu  baik di tanah air maupun di mancanegara. Murid Syech Nawawi Albantani  banyak juga yang menjadi ulama-ulama besar di tanah air dan membuka pondok-pondok Pesantren diantaranya adalah KH.Hasyim Asyari pendiri pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur  dan pendiri Nahdlatul Ulama ( NU ). Dari guru yang memilki keluasan ilmu  maka akan melahirkan Murid-murid yang berkualitas pula. Salah satu Murid Kh Hasyim Asyari yang mendirikan Pondok Pesantren Assalamiyah di desa Curug Sari Kopo Serang banten adalah KH Mohammad Thowil , orang biasa memangilnya  Abah thowil.

            KH.Mohammad Thowil lahir di banten 11 Januari 1923. Ayah nya bernama KH Jasuta yang juga seorang Ulama dan Jawara pejuang di banten. Suasana keagamaan  serta bimbingan pendidikan  agama Islam yang diberikan oleh orangtuanya semasa kecil sangat mempengaruhi pembentukan karakter dan semangat KH.Muhammad Thowil dalam  menuntut ilmu pengetahuan agama Islam serta mengamalkan ilmu tersebut demi kepentingan masyarakat. Sejak kecil KH.Muhammad Thowil  tergolong cerdas hal ini di buktikan dengan penguasaan beberapa disiplin ilmu yang telah beliau selesaikan dalam waktu relatip singkat. Pada Usia remaja KH.Muhammad thowil telah hapal 1000 bait Nadzhom kitab alfiyah ibnu Malik.Kecintaan pada ilmu membuat KH Muhammad thowil harus berjalan kaki dari banten ke Pondok Pesantren Tebuireng Jawa timur, untuk menimba ilmu pada KH .Hasyim Asyari .Di pondok pesantren Tebu ireng ini  KH Muhammad Thowil di tanamkan oleh gurunya  KH.Hasyim Asyari kecintaan kepada tanah air dan siap mengorbankan nyawa untuk membela dan mempertahankan NKRI ini dari ancaman pihak manapun terutama penjajah belanda dan Jepang .

 Di samping mendapatkan beberapa Disiplin ilmu agama  para santri di Tebuireng di bekali ilmu- ilmu Kanuragan untuk menjaga diri dan melindungi keluarga dan masyarakat dari berbagai ancaman kejahatan. Selepas menimba ilmu di Pondok pesantren Tebuireng KH.Muhammad Thowil pulang kebanten untuk mengajarkan apa yang beliau dapat di pesantren kepada masyarakat.

DIKENAL SAKTI DAN IKUT BERJUANG MELAWAN PENJAJAH

         Penampilan KH Muhammad Thowil yang sangat sederhana layaknya Masyarakat biasa namun Kapasitas keimuaan yang beliau miliki sangat Luas. Disamping mengajar KH Muhammad thowil juga  ikut berjuang melawan penjajah , dengan senjata seadanya bersama dengan  pejuang-pejuang Banten lainnya  KH .Muhammad Thowil bergrilya keluar masuk hutan melawan Penjajah. Seruan Resolusi Jihad oleh sang Guru KH Hasyim Asyari  tahun 1945 membuat KH Muhammad thowil begitu bersemangat dan membara semangat Jihadnya  unuk melawan penjajah di tanah kelahirannya banten. Beberapa kali timah panas mengenai tubuhnya namun tidak terlihat sedikitpun luka yang ada di tubuh kecil KH Muhammad thowil  tersebut. Melihat kejadian tersebut membuat masyarakat merasa terkesan dengan kesaktian yang dimiliki KH.Muhammad thowil. Beredarnya kesaktian Abah Thowil sampai juga di dengar kalangan Jawara banten yang berpropesi sebagai Perampok dan ingin menguji kesaktian Abah thowil tersebut. Maka pada suatu malam para perampok melakukan aksinya untuk merampok sekaligus membunuh Abah thowil. Dengan mendobrak pintu rumah , para perampok masuk dan menyeret paksa tubuh Kecil Abah thowil keluar. Dengan hanya mengenakan sarung dan kaos oblong putih tubuh kecil  Abah Thowilpun di siram minyak tanah dan dibakar dihadapan keluarganya  yang menjerit histeris,  masyarakatpun yang melihat kejadian tersebut tidak dapat berbuat banyak karena yang dihadapi perampok yang terkenal jawara sakti dan kejam .  Selang 10 menit berlalu para perampok mengira tubuh kecil Abah Thowil habis terbakar , namun dugaan itu meleset Abah thowil terlihat segar bahkan sarung dan kaos oblongnya pun tidak tersentuh api. Melihat kejadian tersebut para perampok tersungkur dan bersimpuh di hadapan Abah Thowil seraya meminta maaf.

  MENGAJAR DAN MENDIRIKAN PESANTREN

    Selepas kemerdekaan RI KH.Muhammad thowil  mulai kembali mengajar dan mendirikan pondok Pesantren Assalamiyah.  Kemahiran beliau dalam mengajar Kitab-kitab salaf terutama Ilmu Gramar Bahasa Arab ( Nahwu shorof) dan Fiqih.. Semula Pondok Pesantren Assalamiyah masih belum memiliki sekolah-sekolah formal namun kini berjalannya waktu, bertambah banyaknya minat masyarakat baik disekitar nya maupun yang berasal dari berbagai wilayah seperti jakarta, lampung dan palembang untuk menimba ilmu-ilmu agama plus mendapat pendidikan formal dari sekolah , Abah Thowil membangun secara bertahap sekolah-sekolah formal dari MI sampai MA bahkan sekarang telah memiliki perguruan tinggi Islam.

Abah thowil disamping mengajar kepada santrinya beliau juga mengajar kepada masyakarat sekitar , maka tak heran beliau begitu dekat dihati masyakarat. Keramahan serta tutur bahasa yang lembut mampu meluluhkan Hati-hati manusia yang keras. Kalimat yang keluar dari mulut beliau penuh dengan Hikmah ilmu . Bahkan beliau tidak pernah memarahi para santrinya yang nakal secara langsung , dengan halus beliau ungkap teguran tersebut lewat ta’lim dengan menyebut sifulan. Dan santri yang merasa bersalah tentu akan merasakan teguran halus tersebut sampai merasuki sampai relung hati yang dalam.

Suatu ketika sebut saja ferry salah seorang santri yang lumayan nakal, memanjat pohon kelapa milik Abah Thowil dan  bermaksud mencuri buah kelapa milik Kyiai, sedang asik ferry memetik ketika hendak  Turun , abah Thowil menunggu dibawah dengan halus Abah Thowil menegur dengan Bahasa Sundanya ” Sing Hade fer…Engkeh Ragrak….maksudnya Hati-hati Ferry Nanti kamu jatuh, Dengan wajah yang pucat sang santri Menjawab “Iyah Abah sambil ngeloyor pergi menahan malu.

        Dalam setiap kali ta’lim Abah thowil dengan ciri khasnya selalu mengisap lintingan tembakau dan segelas kopi, wajahnya yang tampak mulai keriput dimakan usia namun tak memudarkan semangat beliau untuk terus mengajar kepada santri-santrinya, beliau ingin mewujudkan agar santrinya menanamkan nilai -nilai kebaikan lewat kesederhanaan. bukan kesederhanaan yang baik, bukan pula kebaikan yang sederhana tetapi kebaikan disemua bidang, untuk itulah abah Thowil membekali santrinya dengan nilai dasar kebaikan yaitu “Keihklasan”, Ihklas adalah tanpa pamrih .Jiwa keihklasan santri tampak menonjol daripada sikap-sikap lainnya. Semakin tebal jiwa keihklasan yang tertanam pada diri santri maka akan membuat santri selalu optimis dan semakin maju, semangat keihklasan membuat santri bersedia memulai usahanya dari NOL kembali, membuat santri rela berkorban demi agama dan bangsa. Hal ini dapat diteladani oleh Abah Thowil itu sendiri yang memiliki jiwa keihklasan yang tinggi , Kh.Muhammad Thowil yang tadinya tidak dikerumuni ratusan santri , menjadi rumahnya terjepit ditengah-tengah kamar santri. Seorang santi ikhlas belajar , belajar dengan tanpa pamrih , santri mengabdi tanpa pamrih, menolong tanpa pamrih , berjuang tanpa pamrih, pola tanpa pamrih itulah ajaran dari Abah Thowil. Karena benar-benar tanpa pamrih , maka Kh.Muhammad Thowil selalu mendapat perkenan dihati setiap orang, mendapat penuh kepercayaan , menjadi tempat mengadu dan dijadikan pemutus kata.

                             Ditengah kesibukannya mengajar KH Muhammad jatuh sakit, namun walaupun sakit Abah Thowil selalu menyempatkan untuk mengajar karena baginya mengajar merupakan bentuk pengabdian terhadap ilmu yang dimiliki agar dapat di rasakan manfaatnya oleh santri dan masyarakat. Tanggal 06 feb 2003 Kh.Muhammad Thowil berpulang kerahmatulloh, Linangan air mata mengalir dari masyarakat dan santri-santri yang sangat mencintai beliau , kesederhanaan dan ketawadhuan beliau telah menorehkan kesan yang mendalam di hati para santri-santrinya semoga Alloh Menempatkan beliau ditempat yang mulia .aminnnn

( Santrinya Abah Thowil )